Ersyaputry's Blog

21/02/2010

Sebuah puIsi

Filed under: cEriTa CinTa — ersyaputry @ 3:11 am

Pagi ini tak seperti pagi-pagi kemarin. Matahari sudah tak enggan lagi bersinar dengan kecerahan yang sempurna. Sudah tak ada lagi awan hitam yang menyembunyikannya. Yang ada justru awan-awan putih seperti kapas yang bergerak lamban ditiup angin sepoi. Dengan background langit biru.

Burung-burung pun seolah ikut berperan. Suara-suara cicit yang terdengar bukannya membuat berisik melainkan seperti melodi yang akan menjadi pembuka kisah hari ini. Ia terbang kesana-kemari, bertengger dari satu pohon besar ke pohon besar lainnya. Saling menyenandungkan lagu yang hanya mereka yang mengerti artinya. Merekalah satu-satunya yang membuat tempat ini tak benar-benar sepi.

Semangatku pun lahir dengan hadirnya pagi yang penuh warna ini. Setelah kemarin aku merasa sendiri, kesepian. Gara-gara hujan tak berhenti turun selama satu minggu, tak ada satu orang pun yang datang ke tempatku. Aku memang sudah hampir satu bulan tinggal di sini. Jadi setiap hari aku selalu berharap ada orang yang mau datang ke rumah baruku, tak diajak mengobrol pun tak apa, mereka sudah datang melihatku saja aku sudah senang.

Awalnya aku tidak tinggal di sini. Aku tinggal di sebuah rumah kos bersama beberapa teman yang kuliah di universitas yang sama denganku. Kami semuanya berjumlah dua puluh orang. Bayangkan betapa ributnya rumah yang ditinggali dua puluh wanita yang dikenal sebagai makhluk yang rumit. Setiap hari setiap orang membawa masalah yang berbeda-beda. Mulai dari soal cinta, tumpukan tugas-tugas dari kampus, sampai masalah kewanitaan. Tak ada lagi yang dirahasiakan.

Aku rindu dengan semua itu. Saling berbagi dan kadang-kadang saling marah seperti anak kecil berkelahi. Apalagi aku dikenal sebagai orang yang tak bisa diam, hiperaktif, kata mereka.

Maka ketika harus berpisah dari mereka dan tinggal sendiri, tanpa siapa-siapa, membuat aku menangis setiap malam. Semoga saja tak ada yang mendengar suara tangisanku. Sebenarnya aku juga tak mau hidup seperti ini, sebatang kara seperti tak punya siapa-siapa. Tapi apa mau dikata, jalan hidup masing-masing orang sudah ada yang mengatur. Aku tak bisa apa-apa.

Ah, kenapa aku seperti menyalahkan takdir. Seharusnya aku yakin bahwa Tuhan memiliki maksud di setiap rencana-NYA. Dia juga pastilah memiliki suatu rencana dengan menempatkan aku di sini. Dia jauh lebih tahu apa yang terbaik buatku melebihi diriku sendiri.
Seperti pagi ini, aku yakin pasti akan ada orang yang datang mendatangiku. Kalau tidak mengapa dia membiarkan matahari bersinar di bulan musim penghujan, Desember. Suatu hal yang tidak biasa. Ketika pikiranku tengah asyik melayang-layang dari teman-teman kos, rumah baruku, sampai takdir Tuhan, tiba-tiba saja satu keajaiban datang.

Sebuah mobil berhenti di depan. Aku berusaha menajamkan penglihatanku demi apa yang sekarang aku saksikan. Dua sosok, seorang pria dan seorangnya lagi wanita, turun dari kendaraan yang baru saja membawa mereka ke sini. Aku biarkan mereka berjalan mendekatiku.
Semakin dekat aku mampu mengenali keduanya. Yang perempuan, Mela, dia bukan saja teman satu kosku dulu tapi dia juga teman satu kampusku. Maka jadilah kami bersahabat. Dia tahu semua tentang diriku, begitu juga aku tahu semua tentang dirinya. Tak ada yang kami rahasiakan. Sama-sama tinggal jauh dari keluarga membuat kami seperti kakak-adik.

Dan laki-laki yang bersamanya adalah Kokoh. Tapi dia tak seperti namanya, tak sekuat namanya. Apalagi setelah berpisah denganku. Tepatnya aku yang meminta kami untuk berpisah. Ia tak bisa menerimanya dan meminta alasan mengapa aku lakukan itu. Aku bilang tak tahu, ia tak percaya. Padahal aku memang benar-benar tak tahu. Aku sendiri tak bisa mengenali perasaan apa waktu itu yang membuat aku yakin untuk memutuskan hubungan kami. Hubungan yang bahkan sudah hampir menuju ke arah pernikahan.
Mereka berdua tepat berdiri di depanku, lalu tanpa kupersilahkan mereka serentak berjongkok. Aku sudah berniat untuk berhenti menangis tapi aku tahu kali ini akan gagal.

Aku yakin, pasti Mela yang membawanya ke sini. Pasti Kokoh yang memaksa sahabatku itu untuk menunjukkan tempat baruku. Aku sengaja meminta Mela untuk jangan menginformasikan apapun perihal hidupku kepada Kokoh. Biarlah cerita perpisahan kami menjadi akhir atas segalanya. Jangan ada lagi lanjutannya, Kokoh sudah cukup tersakiti. Aku tak mau menambah sakitnya jika ia tahu yang sebenarnya. Tapi sahabatku itu tak akan sanggup membiarkan seorang pria menangis di hadapannya. Kokoh, bahkan aku lebih kuat darinya.

Dan drama pagi ini benar-benar dimulainya dengan isakan dengan kepala yang tertunduk dalam. Mela ikut me-nangis. Aku memohon supaya mereka jangan menangis. Sia-sia, tak ada seorangpun yang bisa mendengar suaraku. Aku pun ikut menangis. Aku juga terluka dengan perpisahan ini. Bahkan lebih terluka dari luka yang mereka punya.

Aku tidak saja harus berpisah dengannya dan teman-teman yang lain, tapi juga orang tuaku. Parahnya aku juga harus berpisah dengan dunia-tempat di mana selama ini aku ada.

Isakan itu mulai berhenti namun tak menghentikan isakanku kare-na kalimat yang diucapkannya membuat aku ingin hidup kembali. Mustahil akan terjadi.

“Aku masih mencintaimu, Bidadariku. Bagaimana denganmu?” Dadaku bertambah sesak, seharusnya dia tak menanyakan itu. Dia pasti tahu jawabanku sekarang. Aku masih sangat mencintainya.
Mela mengerti itu. Ia sentuh pundak Kokoh, dengan isakan yang semakin kuat, ia mengatakan, “Jangan menanyakan itu, Ko. Fara akan sedih mendengarnya.”

Seolah-olah tak menghiraukan apa yang dikatakan Mela, Kokoh melanjutkan kalimatnya, “Maaf, Bidadariku, aku membiarkanmu menanggung rasa sakit sendirian. Aku telah menyalahkanmu padahal aku tak tahu apa-apa tentangmu.”
Aku memang tak memberitahu Kokoh tentang penyakitku. Penyakit yang menurut para dokter akan mengambil jatah hidupku dengan sangat cepat. Aku mencela mereka saat itu, tahu apa manusia tentang ajal.

Lama-kelamaan penyakit itu seperti mengambil semua ketahanan tubuhku. Aku jadi ikut membenarkan diagnosa para dokter bahwa aku takkan bisa bertahan hidup lebih lama. Aku sangat sedih tapi aku tak mau membuat orang lain menjadi sedih dengan keadaanku. Pikiran itu yang membuat aku memutuskan untuk merahasiakannya sendirian.

Akhirnya aku putuskan hubunganku dengan Kokoh secara sepihak. Sekarang aku baru tahu mengapa aku melakukannya. Aku ingin membuat Kokoh siap atas kepergianku nanti. Membiarkan ia manjalani hari-harinya tanpa aku lagi. Biar jika ketiadaanku yang sebenarnya datang, dia sudah terbiasa. Firasatku akan datangnya kematian memang sangat kuat saat itu.

Dan itu sama sekali tak salah. Satu bulan setelah kami berpisah aku dijemput malaikat bersayap dari langit. Kokoh sama sekali tak tahu berita kematianku. Ia sedang berada di luar kota untuk menyelesaikan proyek kantornya. Tak ada satu pun yang memberita-hunya karena orang-orang menganggap apa yang terjadi padaku sudah tak penting lagi untuk diketahui oleh Kokoh.

Kematianku begitu mudah, begitu indah. Mungkin karena aku telah bersiap-siap akan itu.
Tengah hari, matahari kini tepat berada di atas kepala. Mereka berdua pasti sangat kepanasan. Setelah membacakan doa untukku, Kokoh mencium nisan bertuliskan:
ELFARA binti ARYO DIMA
Lahir
08 April 1989
Wafat
30 November 2009

Secarik kertas bertuliskan puisi diletakkannya di atas gundukan tanah-rumah baruku- dengan serakan bunga-bunga yang baru mereka taburkan. Kokoh tahu aku sangat menyukai puisi.

Kemudian mereka berbalik meninggalkan pemakaman ini. Aku memandangi keduanya, maafkan aku meninggalkan kalian lebih dulu, bisik hatiku.

Setelah benar-benar hilang dari pandanganku, barulah aku membaca puisinya.
Untuk bidadariku yang telah
Pergi
Tak tahu aku
Apa akan ada lagi yang seperti kamu
Biar aku tenggelam dalam waktu
Menantinya akan menjemputku
Seperti dia menjemputmu
Aku rela
Percayalah, aku rela
Aku tersenyum, senang mengetahui isi puisi itu. Kokoh memang bukan laki-laki yang kuat tapi dia mampu untuk ikhlas.

Iklan

Senyuman Terindah dan Terakhir

Filed under: cEriTa CinTa — ersyaputry @ 3:08 am

Syla amila, itulah nama sahabat yang selalu hadir dalam kehidupanku. Aku sangat mengenal Syla, dialah sosok jiwa yang kukagumi. Ia selalu tegar menghadapi cobaan yang menerpanya. Se-nyumannya yang indah selalu bisa meluluhkan hatiku saat aku sedang menasehatinya. Nilai rapornya tidak pernah merah, dan dialah seorang yang dianugerahi kecerdasan oleh Al-Wahhab.

Namun, waktu untukku dapat menemuinya dalam keadaan sadar semakin berkurang. Penyakit berbahaya yang telah bertahun-tahun menyerangnya, membuat Syla lebih sering berada di ruang yang penuh dengan aroma obat-obatan dan Syla tidak lagi melakukan aktivitas yang biasa dilakukan anak seusiaku. Penyakit yang dialami Syla juga pernah dirasakan ibunya, yang telah lama berpulang ke rahmatullah.

Setelah beranjak pergi dari bangunan tempat proses pembelajaran, biasanya aku pulang bersama sahabatku, Syla, sekarang aku hanya sendiri menyusuri jalanan sepi.

Aku pulang ke rumah, mengganti baju, dan segera menuju ke supermarket, untuk membeli buah-buahan. “Cio…” terdengar sebuah suara menyapaku dari belakang. Saat aku berbalik, terlihat sesosok pria tinggi, berumur sekitar lima puluhan.
“Ehh… Om Anton, beli buah juga ya? Gimana keadaan Syla, apa dia udah sadar?” tanyaku bertubi-tubi.
“Iya, Oom beli buah juga untuk Syla. Alhamdullillah sekarang Syla udah sadar. Cio mau menjenguk Syla, ya?” jawab Om Anton sambil bertanya balik.
“Iya, Om.”

“Kalau gitu, bareng om aja. Oom juga mau ke rumah sakit,” tawar Om Anton.
“Iya Om, Cio ikut sama Om Anton.” jawabku.

Sebelum menuju ke rumah sakit, aku dan Om Anton menuju ke sebuah toko bunga hidup. Aku memilih tiga batang bunga anggrek putih, dan Om Anton memilih serangkaian bunga anggrek merah muda. Setelah membayar bunga yang dipilih, kami langsung menuju ke rumah sakit.

“Syla…” kataku sembari mendekapnya penuh kerinduan. Kesepianku terobati, bibirku yang tadinya datar karena nilai ulanganku yang di bawah standar, menjadi sebuah lengkungan atau tepatnya menjadi sebuah senyuman.

“Syl… kamu cepat sembuh ya. Aku rindu saat-saat bersama kamu beberapa tahun lalu. Sepi. Itulah yang aku rasakan selama ini, Syl…” kataku usai mendekapnya, dengan mata yang berkaca-kaca.

“Kamu gak usah khawatir aku pasti sembuh, ya, kan, Pa?” jawabnya sambil tersenyum ramah, lalu menoleh kearah ayahnya.
Om Anton hanya mengangguk dan mengiyakan ucapan anak semata wayangnya itu. Om Anton selalu terlihat sedih jika ia menatap Syla. Walaupun Syla berkata seperti itu, aku tetap khawatir kepadanya. Ia selalu menutupi hal yang sebenarnya selalu menyiksanya.

Hari berganti hari. Keadaan Syla seakan tak dapat diselamatkan. Darah yang keluar dari hidungnya semakin sering dan semakin banyak keluar dengan sia-sia. Hatiku makin perih, apalagi Om Anton, ia takut kehilangan gadis kecilnya yang akan genap berusia empat belas tahun.

***

Seperti biasanya, hari ini pun aku akan pergi ke rumah sakit. Huh… siang ini sang mentari bersinar dengan sesukanya, sepertinya ia tega membakar kulit makhluk hidup yang hanya berpayungkan langit.

Sesampainya di rumah sakit, aku melihat Syla seperti makhluk yang tak berdaya, hidung, mulut, dan telinganya mengeluarkan darah yang tak hentinya mengalir. Dokter,dan perawat berusaha menghentikan darah yang mengalir. Hatiku getir. Tak kuasaku menahan tangisan ini, begitu juga dengan Om Anton yang tak hentinya memanjatkan doa ke hadirat Tuhan. Bibir Syla sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi sulit baginya untuk menggerakkannya, hanya menangis yang dapat Syla lakukan. Setelah itu kulihat senyuman terindah dari bibirnya.

Tak lama hal itu berlangsung, nafas, serta detak jantung Syla berhenti. Tuhan sudah berkehendak. Hal yang paling ditakuti Om Anton akhirnya terjadi. Langit yang berwarna cerah berubah kelabu, tetesan kristal berjatuhan dari langit.
“Sylaaaa…” teriakku berbarengan de-ngan guntur yang seakan ikut bersedih bersamaku, dan Om Anton. Syla telah menyusul ibunya. “Syla… selamat tinggal, suatu saat aku akan ke sana dan menemui-mu”.

***

Sabtu, empat belas Februari. Aku pergi ke toko bunga hidup, kali ini aku membeli serangkaian bunga anggrek. Lalu pergi ke TPU untuk berziarah ke makam sahabatku, Syla. Tidak sulit bagiku untuk mencari makam Syla, hanya beberapa meter dari gerbang TPU. Dari gerbang kulihat seseorang berada berada di makam Syla. Kuperhatikan orang itu. Beberapa saat kemudian, ia berdiri dan beranjak dari makam Syla.

Akupun melanjutkan perjalananku menuju makam Syla. Saat berpapasan ternyata orang itu adalah Om Anton. Ia menyapaku dan tersenyum, lalu ia bilang padaku bahwa Syla ada di sini. Aku terkejut, mungkin Om Anton hanya bercanda. Aku hanya tersenyum, dan berjalan menuju makam Syla.

Kuletakkan serangkaian bunga anggrek yang kubeli tadi di atas makam Syla. Aku mengucapkan selamat ulang tahun dan selamat hari kasih sayang pada Syla. Dan aku pandangi batu nisan tempat nama sahabatku diabadikan.

Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan di depanku atau lebih tepatnya seseorang. Wajahnya mirip dengan sahabatku, ia tersenyum padaku. Senyuman itu mengingatkanku pada senyuman terakhir Syla. Kubalas senyum itu, seketika ia menghilang.
Mungkinkah itu Syla….?***

Bunga yang Berembun

Filed under: cEriTa CinTa — ersyaputry @ 3:06 am

Gadis itu melangkah dengan langkah memburu. Wahanya tampak pucat. Kantung matanya terlihat cekung dengan rambut yang dibiarkan kering dan tegerai kusut. Dia terus melangkah menyusuri koridor kampus dengan membawa beberapa buku tebal di tangan. Dia tak menoleh, hanya menunduk berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang kian memucat. Seperti biasa, saat di dalam kelas, dia selalu memilih tempat duduk di pojok.

“Bunga, wajahmu pucat sekali?” Sinta, sahabat barunya itu menoleh ke belakang. Baru dua minggu mereka saling kenal. Tapi Sinta seperti telah mengenal dekat sahabat barunya itu. Dia bahkan begitu peduli terhadap Bunga.
“Aku sudah biasa seperti ini.” Bunga berkata pelan sambil menundukkan wajahnya yang mengucurkan keringat.
“Tapi wajahmu hari ini pucat sekali,” Sinta melangkah ke belakang lalu duduk di sebelah Bunga. “Ayah dan ibumu bertengkar lagi ya?” tebak Sinta.

“Aku tak tahu. Mereka tidak ada di rumah…” Bunga menyahut dengan suara serak.
“Adik-adikmu bagimana?”
“Adik-adikku baik-baik saja.”
Sinta memerhatikan sekali lagi wajah sahabat barunya itu. Wajah Bunga tampak semakin pucat. “Kalau kau punya masalah, kau jangan malu cerita padaku. Siapa tahu aku bisa membantumu…”
“Jangan terlalu peduli padaku.”
“Jangan memaksakan diri jika kau tak mampu. Kau pasti memerlukan bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalahmu.”

“Sudah kukatakan jangan pedulikan aku!” Bunga menunjukkan sikap tidak sukanya.
“Aku merasa berdosa jika membiarkan seseorang yang tertimpa masalah menjadi tersiksa lantaran tak ada yang peduli. Apalagi kau, seorang sahabat yang pertama kali aku kenal di kampus ini…”
“Kau kira aku wanita lemah?!” Bunga berdiri dari duduknya lalu melangkah meninggalkan Sinta menuju pintu kelas.
“Bunga, kau mau bolos kuliah lagi?” teriak Sinta.

Bunga hanya diam. Sinta mengejarnya.
“Bila kau bolos lagi hari ini kau bisa dikeluarkan dari kelas ini!”
Bunga menoleh, menatap wajah Sinta dengan pandangan menusuk. “Kukira nasibku bukan ditentukan oleh mata kuliah hari ini. Hanya aku dan Tuhan saja yang bisa mengatur hidupku…!”
“Suatu saat nanti kau pasti menyesal.”
“Aku lebih menyesal lagi jika ke kampus tapi tidak mendapatkan apa-apa!”
“Kau menyindir aku?”

“Aku mengatakan ini pada diriku sendiri!” Tanpa rasa ragu sedikit pun Bunga melangkah ke luar kelas. Tak dipedulikannya lagi saat Pak Robert, dosen yang akan memberikan mata kuliah Ekologi Pemerintahan itu melongo di muka pintu, memerhatikan kepergiannya.
***

Bunga telah terkantuk-kantuk menonton televisi bersama kedua adiknya saat ibu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. “Hei, kalian belum tidur…? Hhhh… sudah jam berapa ini heh…?” ibu melangkah sempoyongan. Tubunya lemah sekali.

“Kami mengkhawatirkan ibu… ibu akhir-akhir ini jarang pulang ke rumah…” Bunga memapah ibu duduk di sofa. Tubuh ibu yang berbau alkohol tercium begitu menyengat, menyumbat hidung. Membuat kedua adik Bunga takut lalu menggeser posisi duduk mereka ke sofa ujung.
“Kalian tak usah terlalu mengkawatirkan Ibu… hhhh… Ibu baik-baik saja. Ibu berbuat begini juga demi kalian. Dengan cara beginilah Ibu bisa mendapatkan uang…”
Keheningan menyergap sesaat. Udara malam terasa kian membeku.
“Apa Ibu tahu kalau ayah menikah lagi?” tanya Bunga dengan suara bergetar.
“Biarkan saja. Jangan urusi ayahmu lagi…!”
“Seharusnya ayah bertanggung jawab atas hidup kita…!” Bunga berkata dengan amarah yang menggebu.
“Ibu yang menyuruhnya menikah lagi!”
Hampir saja Bunga tersedak. Bunga membelalak tak percaya. Ibu?? Oh…

***

Raut wajah Bunga kian memucat. Hari ke hari dilaluinya dengan banyak menyendiri. Seperti saat ini, duduk termenung di tepi sungai dengan tatapan nanar penuh dengan kepedihan. Tiba-tiba seseorang datang mengahampirinya, menawarinya segelas teh botol dingin. Ternyata Sinta, sahabat barunya.
Bunga menoleh sesaat menatap wajah Sinta. Wajah itu tampak berseri. Terlihat sangat bahagia. Tidak seperti dirinya, yang selalu murung dengan mata lembab oleh air mata.

“Laki-laki itu sungguh ramah dan baik hati…” Sinta berkata tanpa diminta. Mungkin ia ingin membagi kebahagiaannya pada Bunga. Namun Bunga diam saja.. Tak ada senyum yang merekah di bibirnya.
“Coba kau lihat kalung ini,” Sinta memerlihatkan kalung yang melingkar di lehernya. “Bagaimana menurutmu?” tanya Sinta.
“Kalung itu kalung mahal. Pas sekali di lehermu yang jenjang. Kau tampak semakin cantik,” ucap Bunga mulai bersuara.

“Bukan hanya kalung, laki-laki itu juga memberiku anting-anting dan beberapa gaun mahal.”
“Dia pacar barumu ya?” tanya Bunga.
“Bukan…”
“Lalu?”

“Dia… dia… ah, coba kau lihat ini!” Sinta mengambil sehelai foto pernikahan dari dalam dompetnya lalu memerlihatkannya kepada Bunga. “Pasangan yang serasi bukan?”

Bunga tak menyahut. Ada pisau yang menusuk di ulu hatinya yang membuat kedua matanya kembali mengembun.
“Dia papa buruku…” ucap Sinta kemudian. Embun di mata Bunga pun kian berguguran menoreh hatinya yang semakin terluka.

Sebuah Penantian

Filed under: cEriTa CinTa — ersyaputry @ 3:04 am

Sepertinya cuaca pagi itu agak mendung, membuat semua aktivitas yang akan dilakukan menjadi kacau sedikit. Gemuruh petir terasa menggetarkan tanah jelas di relung hati setiap insan. Langit yang memerah terus mengeluarkan tetesan air dari perutnya, dari pagi hingga sore. Saat itu juga tampak seorang gadis berseragam SMA berteduh di halte bis sambil menunggu hujan reda, ia mengambil sebuah handphone Nokia di tasnya. Ditulisnya sebuah pesan singkat kepada seseorang. Tidak lama kemudian sebuah mobil Mercedes hitam mendekati gadis itu, terlihat seseorang berpakaian polos dan sederhana.

“Kenapa lama sekali, aku seperti di dalam kulkas karena kelamaan menantimu,” rengut gadis berseragam SMA itu.
“Maafkan aku Ima, kamu tahu sendiri ‘kan, Jakarta itu macet.”
“Sudah tahu Jakarta itu macet kenapa tidak pergi dari awal,” balas Ima lagi, ketus.
“Sudahlah Ma. Aku tadi ada kerjaan sedikit makanya aku telat.” Tara berusaha menenangkan Ima yang lagi kesal.
“Bisa kita pulang sekarang?” tanya Tara kepada sahabatnya.
“Kapan lagi. Tahun depan!” cetus Ima.

Tidak berapa lama kemudian mereka pun meluncur menembus hujan yang begitu deras. Sampai di rumah, Ima langsung mengganti pakaian tanpa terlebih dulu makan siang. Dia langsung menuju ke belakang rumahnya dan menuju ke sebuah lapangan basket. Diambilnya bola basket yang berada di bawah kursi. Lalu ia lempar hingga menembus keranjang basket. Hujan pun semakin lama semakin bersembunyi di balik awan. Kini tinggal tetes air kecil yang turun bergantian. Ima terduduk lelah dan terdiam di lapangan itu. Pikirannya kacau, bayangan Arjuna, sahabat kecilnya, bermain-main di benaknya. Seketika ia teringat akan kenangan manisnya bersama sahabat kecilnya itu. Tanpa ia sadari air matanya menetes seiring gerimis saat itu. Masa lalunya sangat pahit untuk diingat dan terlalu manis jika dilupakan.

Saat ia telah mengeluarkan air matanya, sebuah panggilan halus didengarnya sehingga ia sadar dari lamunannya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya perempuan tua itu lembut.
Dia hanya diam. Bibirnya sulit mengeluarkan sepatah katapun. Tubuhnya kaku.

“Sudahlah Nak. Jangan kau terus menyiksa dirimu seperti ini. Nanti kau sakit,” lanjut perempuan tua itu sedih.
“Aku sudah terlanjur sakit, Bu. Hatiku sudah hancur seperti puing-puing yang tak tersisa lagi,” ratap Ima.
“Kau masih punya ibu, Nak. Ibu tidak akan membiarkan kau terus-terusan begitu,” balas ibunya dengan air mata yang berguguran.

***

Malam itu Ima tidak keluar dari kamarnya. Kata-kata Arjuna selalu terngiang di memorinya. Sebuah janji yang terucap dari mulut mungil laki-laki itu, selalu ia nantikan.

“Tiga hari lagi ulang tahunku. Aku tahu Arjuna pasti datang untuk menepati janjinya. Dia akan kembali untukku,” pikirnya sedih. Memang semenjak Arjuna pergi ia selalu murung.

Malam semakin larut. Angin-angin malam yang mengerikan terus menusuk pori-pori setiap orang yang menikmatinya. Suara jangkrik makin riang, tapi burung hantu berhenti menangis. Ima telah terlelap dalam tidur.
Pagi hari, gadis berkulit sawo matang itu berangkat ke sekolah. Tiba di sekolah, seorang gadis sebaya dengannya menghampiri. Seperti biasa Tara selalu menasehati Ima. Memberi penjelasan dan berusaha meyakinkan Ima tentang Arjuna. Baru saja Tara memulai pembicarannya, ia telah disemprot Ima yang masih jengkel.

“Aku sudah katakan! Arjuna itu masih hidup. Dia akan datang di hari ulang tahunku,” katanya yakin.
“Ima, kau jangan gila. Arjuna telah mati. Bencana itu telah merenggutnya. Kau harus menerima kenyataan ini,” kembali Tara menjelaskan.

“Terserah kamu berkata apa. Aku yakin dia pasti kembali. Itu janjinya!”
“Kau harus sadar Ma! Mana mungkin orang yang sudah mati hidup kembali,” jelas Tara dengan sedih.
“Tidak… sebelum aku melihat mayatnya aku tidak akan percaya,” Ima bersikeras menentang kata-kata Tara.
Tara pasrah. Tak tega lagi melihat sahabatnya itu terus-menerus menderita. Apa yang harus kulakukan Tuhan? Bukakan pintu hatinya. Yakinkan dia bahwa Arjuna telah tiada….

***

Hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu Ima. Sebelum acara ulang tahunnya dilaksanakan, ia telah mempersiapkan segala keperluan dengan baik. Kue telah ia hias secantik mungkin. Saat itu semua teman-temannya telah hadir dan acaranya akan segera dimulai. Tapi wajah Ima tampak cemas, gelisah. Ia mondar-mandir di depan pintu rumahnya. Seperti sedang menanti seseorang. Setengah jam berlalu. Tapi acaranya belum juga dimulai, karena teman-temannya telah lama menunggu, hampir membuat semuanya cemas. Tapi Ima tetap menanti seseorang, yaitu Arjuna.

Tara ikut gelisah. Dia panik! Apa yang harus dilakukan. Terpikir olehnya untuk membuka TV yang berada di sudut ruang tengah itu, dengan harapan agar teman-temannya tidak bosan menunggu. Tapi saat memencet remote TV, berita korban tsunami dan gempa susulan banyak memakan korban lagi. Tara segera memanggil Ima dan…

“Ini tidak mungkin Ra! Arjuna pasti tidak ada di situ.” Teriak Ima sedih ketika melihat tayangan itu.
Semua temannya terkejut dan menatapnya tajam dan penuh tanda tanya.

“Ini kenyataan Ma. Semua orang yang ada di Aceh, telah meninggal semua,” jelas Tara prihatin.
“Aku tidak percaya… Arjuna telah berjanji kepadaku dan aku akan me-nantinya,” ia kembali histeris.
“Ima kamu harus sabar! Aku yakin jika Arjuna melihat kamu begini, ia pasti sedih. Lebih baik kamu mendoakannya.”
“Tidaaak!!!”

Ia lari meninggalkan acaranya. Air matanya satu per satu membasahi pipinya. Langkahnya semakin lama semakin pelan dan terhenti. Nafasnya berburu kencang. Jantungnya berdetak cepat. Sepertinya ia merasa telah jauh alam yang tengah ia rasakan sekarang.

Ia terduduk lemah memandang langit yang kelam. Isak tangisnya terus berjalan. Dalam menangis sesosok bayangan putih melintas di depannya. Ia tersentak, mulutnya spontan mengucap nama Arjuna dengan gemetar.
Bayangan itu makin lama makin jauh. Tersenyum manis kepada Ima. Meninggalkannya dalam kesendirian. Ia terus terpaku dan tak dapat mengedipkan mata. Setelah bayangan putih itu lenyap ditelan kabut ia kembali memejamkan mata dan menangis.

“Aku telah rela melepaskanmu pergi untuk selamanya. Meski hal ini sangat menyakitkan bagiku. Aku ikhlas…” ucapnya lirih.

Angin bertiup sepoi-sepoi, satu per satu lembar-lembar daun cemara gugur di depannya. Ia meraih ranting, lalu di tulisnya sebait puisi.
Detik-detik berlalu
Musim semi pun akan berganti
Angin sepoi pun telah merayu
Tapi penantianku
Selalu hidup untukmu….

Untuk terakhir kali ia menjerit menyebut Arjuna melepaskan suaranya ke udara. Suaranya menggaung. Kini penantiannya pun telah berakhir. Mungkin janji tak selalu harus ditepati tapi sahabat sejati selalu tetap di hati. ***

Antara Aku dan Bintang

Filed under: cEriTa CinTa — ersyaputry @ 3:03 am

Aku sudah lama mengenal Bintang, lama sekali, sejak SMP, eh SD, ah atau mungkin sejak aku lahir, karena Bintang selalu ada untukku, selalu menemani aku, tempat aku mengadu, tertawa bersama bahkan saat aku ada masalah Bintang-lah yang pertama kali tahu.

Hingga suatu hari Bintang harus pergi, dia lulus SMPTN dengan angka luar biasa. Itulah yang aku kagumi dari Bintang. Dia pintar, cakep dan selalu perhatian, dan dia tak pernah bisa melihatku menangis. Dia telah menjadi bagian hidupku. Mulanya aku senang karena Bintang berhasil lolos di Fakultas Psikologi yang sangat diimpikannya. Tapi aku terpana ketika tahu universitas mana yang berhasil dimasukinya.

“Mengapa harus jauh-jauh di Pekanbaru? Mengapa tak di sini saja, apa sih kurangnya Jogja buat kamu?” Kutatap matanya yang terus saja memancarkan girang.

“Witri, di manapun tempat kuliah itu sama saja! Jogja, Pekanbaru. Tinggal kita nya aja kok….” Jawabnya.
“Tapi….”

“Percayalah, aku baik-baik saja di sana!” Potongnya
Kupejamkan mataku, mungkin kamu akan baik-baik saja tapi aku? Apa aku bisa terus di sini tanpa kamu? bisik hatiku.
“Sampai di sana kamu pasti akan melupakanku….” Air mata ini tak sanggup kubendung lagi, aku bahkan terisak isak, Bintang hanya tersenyum. Ia menarikku dalam pelukannya aku menangis di bahunya.

“Tak akan pernah Witri! Mana mungkin aku bisa melupakan anak manja dan cengeng sepertimu….”
Kutinju bahunya aku meronta dari pelukannya,dan berlari menjauh darinya. “Ingat Bintang! Aku bukan anak kecil lagi “ Jeritku

Dia tertawa dan terus mengejarku, selalu saja begitu. Kami sudah sangat dekat, dekat sekali, sementara senja bergulir perlahan, tempiasan sinarnya memantul di permukaan telaga. Liburan kali ini seperti juga liburan kemarin selalu saja dihabiskan di tempat ini, di Telaga Sarangan, tapi kami tak pernah bosan. Bahkan ketika liburan tahun sebelumnya Romo mengajakku ke Rotterdam mengunjungi Oom Peter, Aku sedih sekali tak bisa ke Sarangan bersama Bintang.

“Jangan menangis gitu dong, Witri! Jogja-Pekanbaru itu nggak jauh kok, aku kan bisa telpon kamu. Ayo se-nyum! Masa jagoan cengeng…” Ejek Bintang ketika aku mengantar kepergiannya di Bandara.

Aku mencoba tersenyum, kamu nggak tahu Bintang, Meskipun aku bisa telpon kamu seharian pun tetap beda kalau kamu tak ada di dekatku, kamu nggak bisa temani aku ke Perpustakaan lagi, jalan-jalan ke Malioboro, ke Alun alun atau ke Sarangan, nggak bisa lagi!

***

Satu tahun terakhir Bintang mulai jarang menghubungiku, ketika kutanyakan dia hanya menjawab “sibuk.” Sibuk berorganisasi-lah, sibuk kuliah, dan segala macam alasannya. Aku maklum, aku percaya Bintang tak pernah bohong padaku.

Dua tahun di awal, Bintang tak pernah menghubungiku lagi. Telpon kost-nya ketika kuhubungi diangkat temannya, dan dari temannya kutahu Bintang sudah pindah. Handphone-nya tak pernah aktif. Lalu kutulis surat lewat email, lama sekali baru dibalas.

“Dear Witri…
Maaf baru ku balas email kamu, aku sangat sibuk Wit, semester depan aku PKL, setelah itu aku KKN, Witri belajar yang rajin, sebentar lagi UN khan? Moga-moga lulus. Lam sukses…
Setelah itu Bintang tak pernah lagi membalas emailku, berkali-kali aku meminta alamat barunya atau nomer handphonenya tapi Bintang tak pernah membalas emailku.

Hari-hari menjelang UN makin dekat, sejenak Bintang terlupakan, sebagai gantinya tiap malam sebelum tidur aku memandangi bintang-bintang di langit, menumpahkan semua sedih, perih dan juga rindu. Aku selalu berharap bintang-bintang itu menyampaikan keluh kesahku pada Bintangku yang selalu saja sibuk.
“Mungkin kamu mencintai Bintang, Wit. Mengapa kamu nggak pernah jujur padanya…” ucap Luna suatu hari, satu-satunya orang yang dekat denganku setelah kepergian Bintang.
“Entahlah Luna, aku nggak tahu…” jawabku datar.

“Kamu membohongi diri sendiri kalau bilang nggak cinta sama Bintang!” lanjut Luna.
Kubiarkan semua ucapan Luna mengambang di kesejukan senja. Seperti tak percaya aku datang ke Sarangan bersama Luna, bukan bersama Bintang! Cepat kubuang jauh semua anganku tentang Bintang. Bintang sudah melupakanku. Ternyata apa yang pernah kutakutkan dulu terjadi juga. Pelan kugoreskan pena di atas diary kecil yang selalu kubawa ke mana-mana.

Seruling bambu
Merdu walaupun sendu
Menyentuh daun-daun waru
Menyentuh celah-selah kalbu
Telaga Sarangan menyimpan misteri
Sampai kini tak kumengerti
Senja makin kelabu. Kutinggalkan Sarangan dengan berbagi macam kecamuk di kepala, benarkah Bintang telah melupakanku? Mengapa?

***

Hasil kerja kerasku selama hampir dua tahun penuh tak sia-sia, aku lulus UN dengan nilai menakjubkan. Romo dan Ibu bangga padaku, semua mengucapkan selamat padaku, bahkan Oom Peter menawariku kuliah di negerinya. Tapi aku menolak, sama halnya ketika aku ditawari beasiswa di berbagai PTN atau New Orleans, (untuk tawaran yang satu ini aku tak pernah memberitahu Romo dan Ibu, karena aku yakin beliau pasti marah jika tahu aku menolak beasiswa dari sebuah Universitas ternama di New Orleans.) Sebenarnya ini kesempatan langka, tapi aku sudah punya rencana sendiri,dan saat kuutarakan pada Romo aku membuat beliau marah dan kecewa.

“Apa!! Pekanbaru? Lebih baik kamu masuk UI saja!“ kata Romo
“Tapi Romo, Witri ingin mencoba hal baru, Witri ingin hidup mandiri tanpa Romo dan Ibu, saya pikir Pekanbaru tempat yang bagus…” hampir menangis aku meyakinkan Romo. Dan Romo pun akhirnya luluh.

Begitulah kutinggalkan Romo dan Ibu, aku ingin mengejar mimpiku, aku ingin mencari Bintang. Pekanbaru adalah hal baru bagiku tapi aku yakin akan menemukan Bintang dan bisa bersama-sama dengan Bintang lagi. Aku tinggal di sebuah apartemen kecil, bersama dengan beberapa mahasiswa dari berbagai kota dan daerah. Akhir-akhir ini aku dekat dengan seorang mahasiswi sebuah Universitas Negeri asal Medan, kak Tria.

“Nda, kenapa sih kamarmu penuh dengan segala macam benda dan hiasan bintang? kamu suka sama bintang?“ tanyanya suatu hari.

Aku memandang semua barang-barang itu, mulai dari bantal yang berbentuk bintang, stiker-stiker bintang, jam berbentuk bintang, selimut dan sprei yang bergambar bintang, handuk dengan motif bintang, gantungan kunci, mang-kuk berbentuk bintang dan gelas dengan hiasan bintang, dinding bercat dengan gambar bintang, buku, kotak sabun, kotak pensil, lemari semua penuh dengan segala macam tentang bintang.

“Aku terobsesi dengan bintang, kak. Aku ingin selalu dekat dengannya dan ingin memilikinya, karena dia adalah hal paling indah yang pernah kulihat…“

“Kakak juga suka Bintang, Nda, karena dia adalah satu-satunya orang yang paling kakak cintai…“ kak Tria memandangku penuh senyum

“Orang? Maksud kakak? Kakak kenal Bintang?“ tanyaku.
“Ya, nanti malam dia ke sini, kakak mau kenalkan dia sama kamu…“ Ucap Kak Tria sebelum berlalu dari depan kamarku.Aku terlolong mendengarnya, Bintang? Bintangkukah…

***

Aku memandang mereka dari kejauhan, kak Tria bergandengan dengan seseorang, dan rasanya aku sangat mengenalnya.

“Nda, ini Bintang, pacar kakak. Bintang, ini Nanda, adik yang tinggal serumah denganku…“ Kak Tria memamerkan senyum lesung pipitnya.

Aku tak mampu mengulurkan tangan, tubuhku beku, aku ingin memeluknya, menumpahkan semua rindu yang ada, tapi tak bisa, ada kak Tria yang memegang lengannya erat.

“Witri…apa kabar? Tak menyangka bisa bertemu lagi denganmu…“ ucap Bintang. Aku tersenyum kecut. Kamu jahat, Bintang! Kamu melupakan aku, dan sekarang tak ada sedikit pun ucapan maafku untukmu, umpatku dalam hati.
Aku tak sanggup menahan pera-saanku, hati ini rasanya mau meledak. Aku pergi dari hadapan mereka yang menatapku dengan tak mengerti, aku menuju kamarku, kubanting pintu dengan keras hingga terdengar sampai ke beranda tempat mereka duduk berdua.

Namaku Witri Ananda, seorang gadis bodoh yang menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tak pasti, mengharap seseorang tanpa mau mengakui perasa-annya sendiri. Uh… Bintang takkan pernah tahu perasaanku, dia pasti menganggapku hanya sebagai teman atau adiknya karena aku tak pernah berani jujur padanya tentang semua ini. Aku kecewa dengan pertemuanku dengan Bintang. Aku sedih, Bintang telah menjadi milik orang lain. Tapi biarlah aku mengabadikan hadirmu melalui bentuk-bentuk abstrakmu, Bintang. Biarkan aku mencintaimu dari jauh, hingga perlahan rasa itu reda.

Aku yang Salah???

Filed under: cEriTa CinTa — ersyaputry @ 3:00 am

Dia memang orang yang tertutup, bahkan sangat tertutup, tetapi aku bisa sedikit masuk lewat pintu hatinya yang sedikit renggang. Walau susah akhirnya dia mau menceritakan masalahnya kepadaku, dan meminta aku merahasiakan hal itu.
“Kamu malu ya?” tanyaku waktu itu.

“Tidak. Aku tidak malu, aku cuma tidak mau dikasihani orang lain dan diberi perhatian khusus, aku ingin biasa saja.” Jawabnya dengan wajah tak bergeming. “Aku masih bisa hidup walau bagaimanapun caranya.”

“Iya, tenang aja aku pasti menyimpan rahasia ini.” Aku mencoba untuk mengerti dia.
“Terima kasih, Wit,” katanya lagi. Aku hanya mengangguk. “Tapi kenapa kamu sering tidak masuk sekolah?”
“Aku tidak semangat ke sekolah.”

“Tidak semangat? Seharusnya kamu itu semangat ke sekolah. Siapa tahu kekosonganmu akan terisi dengan adanya kegiatan-kegiatan di sekolah.”

“Entahlah.” Dia melenguh. Tidak ada yang bicara lagi. Bel tanda waktu istirahat selesai berbunyi. Semua kembali ke kelas. Aku duduk di tempat dudukku.

***

Tak terasa sudah enam bulan aku duduk di kelas XII, waktu pembagian rapor pun tiba. Tapi satu orang yang tidak datang mengambil rapor, yaitu Ruli. Apa anak itu masih natalan? Pikirku. Padahal aku sudah memberi tahu dia bahwa hari ini pembagian rapor.Ternyata dia tidak juga datang.

“Le, Ruli ke mana sih?” Tanyaku kepada Sule setelah selesai pembagian rapor.
“Nggak tau, sejak dua hari kebelakangan ‘ni HP-nya tidak aktif. Aku takut terjadi apa-apa aja sama dia.”
“Maksud kamu?”

“Iyalah, kemaren katanya dia sakit, jadi takut aja ada apa-apa.”
Aku tidak menjawab lagi, pikiranku hanyut entah ke mana. Ada apa lagi dengan Ruli? Apa dia baik-baik saja? Di mana dia sekarang? Apakah dia sudah pulang dari rumah neneknya? Berbagai pertanyaan berlomba-lomba masuk ke benak ku. Sayangnya, satu pun tidak terjawab. Pikiranku berkecamuk.

Libur semester ganjil telah usai. Semua siswa kembali ke sekolah. Ada dengan wajah gembira, ada juga dengan wajah kusut, mungkin belum puas mengokol di tempat tidur. Sedangkan aku sangat senang kembali ke sekolah apalagi hari senin ini kami akan diberi sarapan pagi yang enak, sarapan Fisika. Mata pelajaran yang sangat aku sukai di kelas XII, dan aku ingin sekali bertemu dengan Ruli, ingin tahu keadaannya. Dan ingin melihat keceriaan sebenar di wajahnya bukan kepura-puraan yang selalu disebarkannya.

Tetapi hari ini masih juga belum aku temukan sesosok Ruli di dalam kelas. Mataku liar memandang seluruh penjuru sekolah, tidak juga kutemukan. Dia memang tak datang lagi. Sudah dua minggu berlalu, Ruli belum juga tampak.

“Le, tahu nggak di mana Ruli? Sudah dua minggu belum masuk juga. Biasanyakan kamu selalu sms-an ma dia.”
“Tidak. Udah lama aku tidak menghubungi dia. Kamu ke-napa sih, Wit, nanya Ruli mulu?”

“Nggak apa-apa sih, aku ‘kan sekretaris, jadi aku harus tahu keterangan setiap siswa yang tidak hadir.” Ja-wabku sekenanya.
Ada keraguan di wajah Sule. Aku tak peduli. Jam pelajaran ke empat telah berlangsung selama satu jam pelajaran, Kepsek masuk ke kelas kami. Semua diam. Kepsek yang satu ini memang ditakuti semua siswa, tapi tidak untukku. Aku hanya segan kepadanya.
“Ruli sudah masuk?” tanyanya tegas.
“Belum, Buk!” Jawab kami serentak.

“Ke mana dia?”
Aku mengacungkan tangan agar tidak terjadi kekecohan. Kepsek memandang ke arahku meminta jawaban.
“Tidak tahu, Buk, karena dia tidak tinggal di rumahnya.” Ja-wabku.
“Orang tuanya?”
“Katanya mereka sudah berpisah dan tidak tinggal bersama lagi.”
“Pendidikan itu penting untuk masa depan, jadi jangan menyia-nyiakan pendidikan selama ada kesempatan.” Nasehatnya kepada kami. Dia pun berlalu. Ica dan Rozal memandangku dengan tatapan tajam.
“Kenapa?” Tanyaku heran.

“Mengapa kamu membuka rahasia Ruli?” Tanya Rozal. “Kalau dia tahu kami pun akan dipersalahkannya.” Sambungnya.
Lama aku berfikir rahasia mana yang aku buka,baru aku ingat dengan perkataanku kepada Kepsek tadi, “berpisah.”
“Ya Tuhan, aku lupa. Sumpah! aku tak sengaja dan sama sekali tidak berniat membuka hal itu. Maafkan aku, sungguh aku tak sengaja.” Kataku menyesal. Selain aku, Ica dan Rozal juga tahu masalah Ruli.

“Kenapa kamu minta maaf kepada kami, minta maaflah kepada Ruli.” Kata Rozal.
Mulai saat itu hatiku sungguh resah, rasa bersalah terus menghantui. Mau minta maaf, aku tidak tahu Ruli ada di mana sekarang. Aku takut dia membenci aku. Aku tak mau menambah satu orang lagi yang membenci aku, seperti Yuda dan Resa. Sudah banyak kali aku SMS Ruli tapi tidak ada balasan. Perasaan bersalah ini benar-benar mendera.

***

Langkahnya gontai, menunduk, terkeseng-keseng. Sudah dua minggu dia tidak muncul, baru sekarang menampakkan hidungnya. Mungkin anginnya mulai membaik. Dia langsung menuju tempat duduknya di ujung sudut kelas. Masih menunduk. Entah apa dalam pikirannya, semua tidak tahu. Memang orang lain tak peduli dengannya, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya aku dan Sule yang selalu bertanya keadaannya. Sebenarnya dari pertama aku melihat Ruli di rumah temanku, aku sudah mulai ingin tahu tentangnya. Apa yang menarik tentangnya aku tak tahu, yang aku tahu dia tengah sendiri. Dan aku telah menghancurkan kepercayaan yang diberikannya.

Tiga hari telah berlalu perasaan takutku masih mencengkam, terus mengalahkan keberanianku untuk berbicara langsung dengan Ruli. Menjelaskan semua tapi untuk bertemu dengannya saja aku takut, takut sekali. Apalagi sejak dia masuk ke sekolah tidak pernah sekalipun dia menegur bahkan melihatku. Sampai guru Bahasa Indonesia masuk ke kelas.

“Hari ini Bapak ingin kalian semua untuk menulis pengalaman masing-masing.” Pak Santoso membuka pertemuan kali ini. “Tapi Bapak mau satu orang ke depan untuk menceritakan pengalamannya.”

Hening. Semua bungkam. Tidak ada yang bersuara. Kelas yang aku duduki sekarang memang seperti itu, bila disuruh bicara dia diam tapi bila disuruh diam dia bicara. Sungguh memuakkan. Aku mengangkat tangan.

“Baiklah, Wita maju ke depan.” Aku melangkah ke depan kelas. Ada rasa gentar juga ditatapi oleh tiga puluh pasang mata.
“Ayahku meninggal dunia ketika aku masiah terlalu kecil,” kataku mengawali cerita. Tidak ada yang bersuara. Ruli tidak melihat ke arahku, dia masih menunduk.

“Ibu yang telah membesarkan kami anak-anaknya. Ketika aku di SD aku tidak pernah merasakan yanng namanya seragam baru. Semua bekas. Aku tidak pernah mengeluh, yang penting aku bisa sekolah. Di SMP aku membiayai sekolahkku sendiri dengan bantuan beasiswa untuk siswa yang berprestasi. Begitu juga di SMA. Aku selalu ditinggal sendiri di rumah, ibu dan kakak sering pergi. Ibu selalu berkata bahwa aku memang dibiarkan belajar hidup mandiri. Walaupun aku tidak makan, tapi aku harus sekolah. Itulah yang selama ini aku pertahankan. Masalah? Memang harus dimiliki oleh setiap insan agar bisa mengembang pola pikir kita. Kalau masalah keluarga, aku rasa keluargaku yang paling parah, kecoh. Setiap hari pasti ada pertengkaran, adu mulut, menangis. Sepertinya bagi mereka tiada hari tanpa bertengkar. Kadang aku berpikir untuk pergi dari rumah dan kota ini. Tapi ketika aku berpikir ulang, kalau aku pergi maka sekolahku akan terbengkalai, dan perjalananku sejauh ini akan sia-sia. Makanya aku masih bertahan sampai detik ini.”

Aku menutup cerita. Aku kembali ke bangku. Sebenarnya aku ingin Ruli sadar bahwa hidup ini memang susah, tapi harus dihadapi dan dijalani, karena di setiap langkah kita selalu disirami dengan kasih sayang yang abadi yaitu kasih sayang Tuhan. Bagi aku, kenyataan itu pengajaran. Belajar menghadapi kenyataan berarti belajar menikmati kehidupan. Kalau bagi orang lain hanya dua kata yang ingin aku ucapkan, “pata nehi.”***

Francis dan Kucing-kucing Kecil

Filed under: cEriTa CinTa — ersyaputry @ 2:57 am

IA menggigil menatap jalan. Jaket berornamen bulu dombanya telah basah kuyup dari tadi, ketika hujan turun dengan derasnya. Jalan telihat lengang, sesekali sorot lampu mobil menyilaukan pandangannya di antara tempias air yang berjatuhan. Dan lambaian tangannya benar sia-sia saja, tak ada tumpangan untuk malam ini. Laki-laki itu mengibaskan jaketnya hingga bulir-bulir air jatuh berderai ke lantai di sepanjang emperan toko yang satu jam lalu telah ditutup oleh sang pemiliknya.

Ia menghembus napas, mencoba mencari kehangatan dari dirinya sendiri. Ia ingin pulang. Seseorang itu telah berjanji padanya untuk datang dua jam lalu, tapi ia tak kunjung tiba, seorang wanita yang ia kenal setahun silam, membawa hatinya pada satu harapan.

Laki-laki itu ingin pulang, secangkir susu panas beserta selimut hangat lebih menggiurkan ketimbang berdiri kaku di antara deras hujan malam ini. Rahangnya yang kokoh berubah kaku.

Petir kembali menyambar. Laki-laki itu makin bersedekap, mengatup tangannya dengan erat. Sebuah kantong plastik berisi tembakau pilihan di apitnya dalam jaket, hampir saja ia kehabisan stok tembakau yang diperlukan Ibunya. Janji tetaplah janji, ia pun tak tahan lagi, sudah kepalang basah, malam pun semakin larut. Laki laki dengan kumis tipis itu bergegas menerobos hujan yang kian deras.

***

“Apa yang mesti kulakukan, Mbak?” wanita bermata bening itu menangis di sudut tempat tidur, seorang lagi yang dipanggil dengan sebutan “mbak” itu sibuk mengoles lipstik di bibirnya.

“Jalani saja. Ayahmu sendiri yang mengantarkanmu ke sini lagi, kan?” Mbak itu berkerling manja, membuat wanita itu tambah bersedih. “Tak ada gunanya lari dari tempat ini, nikmatilah.”

“Aku berjanji pada sesorang. Aku mesti menemuinya,” wanita itu me-nyeka airmata
“Kau masih komunikasi dengan pria itu? Siapa? Oh ya Francis. Sudahlah, masa lalumu tak ada gunanya. Apa yang kau harapkan dari laki-laki seperti itu. Cepatlah berhias, ada yang akan membawamu malam ini. Madam rugi jika kau tak ada.”

Wanita itu masih terisak-isak hingga seseorang bertubuh gempal mendekatinya, dan melihatnya menangis.
“Aku takkan menyakitimu.”
“Tapi kau inginkan tubuhku? Sama saja!”

“Itu pasti,” kumis lelaki itu ber-gelombang, membuat wanita mual.
“Aku belum makan, bisakah kita makan di luar?” pinta wanita
“Baiklah, lebih baik kau ke apartemenku saja, di sini kurang nyaman.”

Begitu mudahnya lelaki itu mempercayai wanita yang baru lima menit di kenalnya tersebut, mereka melaju di jalanan yang basah karena hujan. Dan lelaki itu terus saja berceloteh, hingga tak mengerti apa yang akan terjadi beberapa saat kemudian.

Lelaki itu membanting stir dengan keras, pandangannya kabur saat sebuah balok kayu keci menghantam kepalanya dengan cepat.

Pekikan wanita menambah histeris keduanya, keberanian yang belum pernah ia lakukan seumur hidup demi janji pada seseorang. Sesaat kemudian ada yang terpental dari muka mobil, seseorang melewati pembatas jalan dan mobil pun menghantam tembok pagar. Hujan pun makin deras, tenggelam dalam pekat malam.
Tembakau pun berhamburan di muka jalan, baunya mengenang bercampur hujan.

***

Air menggelegak dari panci. Uapnya membuat gemerutuk panci berbunyi keras dan sang wanita paruh baya tersentak karenanya. Dia bergegas meraih gelas dan menuang air hangat itu ke dalamnya, “Francis pasti kedinginan” begitu fikirnya. Namun gelas yang berada di hadapannya itu seketika saja terburai, membuat tangannya melepuh. Wanita paruh baya itu meringis, gelas keramik takkan mudah pecah hanya karena air panas. Ini pasti ada firasat buruk, batinnya.

Jarum jam berdentang, wanita itu beralih ke ruang depan. Pukul 11.15 malam, sesekali ia menyibak gorden berharap seseorang itu akan pulang agar cemasnya hilang.

“Bagaimana Francis?” Desisnya. Baginya, Francis adalah harta yang ia miliki selain rumah yang tengah di tempatinya itu. Anak lelakinya yang berumur dua puluh lima tahun tepat lima hari lagi. Ia menyesal kini, karena tiga jam lalu memaksa Francis untuk membelikannya sekotak tembakau pilihan yang dijual khusus di pusat kota. Meski mobil bututnya tengah diperbaiki, Francis tak menolak juga pergi dengan angkutan umum. Francis patuh padanya, andai saja kecanduannya tak kambuh saat itu juga, mestinya Francis kini tengah terlelap bersama mimpi-mimpinya.
Wanita itu kesepian, hanya Francis dan kucing-kucing kecil itu yang menemaninya. Kini ia terus mendesak Francis untuk segera menikah, hingga ia merasakan kembali kehidupan itu. Keegoisan yang mutlak. Wanita itu menangis, menangisi malam-malam yang makin mempercepat detak jantungnya. Ia segera mengambil kotak dalam laci tempat tidurnya di kamar, lalu memasukkannya butir per butir ke dalam mulut. Di cengkeramnya sisi kasur dengan erat, lalu seteguk air sedikit melegakan ketegangan itu. Dan ketika itulah, Ia yakin bahwa Francis telah pulang, ada yang membuka pintu pagarnya.

Wanita itu menyibak gorden jendela, mencoba mengamati dari kaca yang berembun. Ia tersenyum tipis, “Francis !!” serunya. Dia datang bersama seseorang, seorang wanita. Francis menepati janjinya juga tembakau itu.

Wanita paruh baya bergegas me-raih mantelnya lalu membuka pintu depan. Kucing-kucingnya mengeong dan menggigiti ujung mantel, berusaha menahan wanita itu keluar rumah namun wanita itu terus saja melangkah. Angin berhembus kencang dan ia kehilangan bayangan anak lelakinya.

“Francis!! Masuklah, nak!” teriaknya dalam gemuruh hujan.

Wanita itu menuruni tangga dan menuju pagar depan, hanya ilusi ternyata. Francis tak pulang. Pintu pagar bergoyang-goyang akibat angin. Ia berdiri cukup lama di pagar, tangisnya pun pecah dan ia tetap menanti seseorang itu untuk pulang.

Petir kembali menyambar, wanita paruh baya itu terpeleset di tengah derasnya hujan. Sekujur tubuhnya basah bersama malam, ia terus sesenggukan tanpa tiada yang datang.
“Francis, kaukah itu nak?”

Wanita itu tiada daya lagi, tubuhnya terlentang di halaman. Pikirannya berkelebat akan bau tembakau yang me-nyelimuti penciumannya. Namun ia sempatkan terse-nyum ketika uluran tangan membuatnya terasa hangat. “Francis, kau pulang?”. Ia terus berbisik pelan dan semakin pelan dalam malam yang kian kelam.
“Francis…” batinnya.***

Love on Diet

Filed under: cEriTa CinTa — ersyaputry @ 2:56 am

“ Hahhhhhh!!! Naik lagi!!!. “ Omel Andy dalam hati setelah menimbang dirinya. Padahal selama ini dia sudah mengurangin porsi makannya, biasa makan nasi 1 piring sekarang sudah 1 piring kurang 1 sendok, tapi kok beratnya masih tetap naik ya. Andy pasrah dia kembali melihat dirinya di cermin, duh tampangnya tambah bulet, tambah imut , huekkkk!!. Kalau begini bagaimana bisa dapet cewek?? Kudu tambah menu diet dengan olahraga
“ Besok aku akan mulai jogging, ga ada alasan untuk tidak !!” Andy membatin , tekadnya sudah bulatt, sebulat perutnya.

Kebetulan besok hari libur, bukan tanggal merah, ini libur khusus di sekolah Andy, dalam rangka memperingati kepala sekolah Andy berhasil melunasi kredit rumah selama 10 tahun, so setelah berjuang selama 10 tahun , akhirnya sang kepala sekolah mau membagi kebahagiaannya dengan meliburkan sekolah, ya berhubung smua hobi kalau libur jadi ga ada tuh yang protes dengan keputusan dari kepala sekolah hihihi. Andy bangun pagi – pagi, walau matanya masih setengah terbuka, dia nekat bangun, dan langsung menuju ke kamar mandi untuk cuci muka biar langsung seger. Jam di dinding masih menunjukan pukul 5.15 pagi, jam segini paling Cuma ibu Andy yang sudah bangun, dan ibu Andy sempet geleng – geleng liat langkah Andy yang sempoyongan, bukan karena ngantuk tapi berhbung dia berjalan setengah tidur, wahasil dalam perjalanan dia nubruk tembok, dan kini dia telah benar – benar bangun, matanya dah melek . Udara pagi sejuk, pas banget untuk jogging, Andy melakukan pemanasan kecil – kecilan, targetnya hari ini keliling 1 putaran komplek perumahan yang ia tinggalin, 1 putaran kira – kira 1 kilometer, lumayan jauh , apalagi untuk ukuran Andy yang ga doyan olahraga.

Setelah berhop – hop , lompat – lompat kecil sebentar, biar panas, Andy mulai juga jogging. Pelan – pelan, ga perlu cepat – cepat , batinnya. Pagi – pagi di kompleks banyak juga yang jogging, Andy terus tersenyum , tebar pesona pada atlit – atlit lain,sapa tau aja ada cewek cakep nongol. Setelah 200 meter berlari Andy mulai merasa capek, kakinya mulai ga bisa diajak kompromi untuk terus lari, tapi Andy terus memaksakan diri, akhirnya 100 meter kemudian Andy menyerah, dia terduduk, keringat jatuh menetes terus, napasnya tersenggal – senggal.
“ Ndyy!. “ Suara lembut memanggil dari belakang, Andy hendak menoleh tapi badannya capek banget, tapi suara ini dia kenal , hmmm sapa ya, Pemilik suara itu berlari ke depan Andy dan memperhatikan Andy
“ Kamu ga pa-pa Ndy??? “

Ternyata suara itu milik temen sekelasnya cewek bernama Ellyn, Ellyn memang tinggal 1 kompleks sama Andy, tampangnya kece, imut – imut, rambutnya sering diikat kuda, matanya bulat, kulitnya uiii mulussss ga ada tuh jerawat yang ngontrak di mukanya.
“ Makanya kalau ga kuat jangan dipaksa kan liat sekarang, isa – isa kena serangan jantung mendadak baru tau. “ Goda Ellyn
“heeeehhh, hehhhhhhh ka… mu.. ini…. “ Andy ga sanggup melanjutkan, napasnya abisssss
“ Sudah ayo duduk dulu disamping jalan dulu istirahat, jangan duduk di tengah jalan. “ Kata Ellyn membantu Andy duduk di samping jalan, Andy menurut aja.

Setelah beberapa saat, setelah beberapa perasaan ingin muntah karena perutnya Andy ga tahan terus bergolak, akhirnya keadaan Andy sudah baikan, napasnya suda mulai teratur.
“ Nih minum dulu . “ Kata Ellyn menyerahkan minumannya
Uitt botol milik Ellyn, ciuman ga langsung donk ini.
“ Ciuman ga langsung donk ini hehehe. “ Gurau Andy
“ Maumu, enak aja tuh belum kusentuh, baru juga keluar jogging. “ Bantah Ellyn
Andy tertawa kecil, Ellyn juga, ya walau sedikit kecewa ga dapet ciuman ga langsung.
“Hobi jogging juga Lyn? “
“Oh jelas biar tambah seksi , hehehe. Tumben liat kamu jogging, napa ? dah sadar yah tambah bulet “ Ejek Ellyn sambil lirikin perutnya Andy yang sudah tambah bulet
Andy garuk – garuk kepala “ Ah ga , cuman latihn mau ikutan maraton ntar bulan depan. “ Ellyn tertawa lagi, “ Dah ah, tambah lama , tambah ngaco kamu, kutinggal ya, ato mau ikut bareng lari? Ah jangan deh ntar pingsan tengah jalan gw yang dituduh, kan repot .” “ Welehhh ngajak sendiri, terus nolak sendiri, dasar kamu, gak deh makasih, aku jalan aja dulu. Jalan sehat ga kuat ni badan langsung dipaksa lari kebanyakan tidur hehehe. “Kata Andy
“ ok deh lari dulu ya,” Ellyn bangkit terus lari kecil –kecil meninggalkan Andy

Andy hanya memandangin Ellyn, sebenarnya dia sudah lama suka ama Ellyn, orangnya ceria banget , imut, manis lagi, biar mereka tetanggaan Andy ama Ellyn jarang bicara, maklum Andy orangnya pemalu banget, apalagi beda bodinya satu ukuran jumbo satu extra small , jadi kontras banget. Andy menghela napas, lalu bangkit berdiri, memaksa untuk jalan mengelilingin kompleks, yaa hari pertama jalan dulu ntar kalau sudah biasa baru lari getu deh.Semenjak hari itu, Andy dan Ellyn sering ketemuan kalau sedang jogging, kadang joggin bareng, tapi bisa diduga Andy selalu ketinggalan , sempoyongan dibelakang. Di sekolah juga mereka menjadi lebih dekat, Andy walau kemampuan olahraganya dibilang minim, tapi untuk urusan pelajaran dia termasuk 10 besar dikelas, ya lebih baik dari Ellyn, jadi terkadang Ellyn minta ajarin matematika dengan mencontek pr Andy maksudne hehehe.Setelah beberapa minggu jogging , Andy sudah lebih baikan, paling gak sudah ga seperti hari pertamanya jogging, tapi berhubung si Andy abis jogging porsi makannya malah tambah banyak, yaaa hasilnya jadi ga begitu keliatan, tetep bulet, dietnya jadi gagal, tapi tetep aja dia hepi soalnya deket sama Ellyn hehe.Minggu sore itu, seperti biasa mereka lagi jogging,

“ Ndy kamu stiap hari jogging, tapi kok tetap bulet ya ga keliatan tambah kurus? “ Tanya Ellyn heran, saat mereka jogging bareng
“ Ehh… yaa… itu”
“ Itu , itu apa? Pasti abis jogging kamu makan 2 piring nasi ya? Hahaha makanya tambah ndut. “ Ledek Ellyn tertawa
“ Ya itu dia , hehe, abis jogging kan laper nafsu makan tambah ga terkendali tambah banyak aja makanya . “
“ Hmm, daripada kamu makan nasi bagus kamu ngetesin kue – kue yang ku buat deh. “ “ Jadi kelinci percobaan maksudmu? “
“ hehehe, ya ga pa-pa kan itung – itung kamu buat amal, bantuin teman jadi pinter manggang kue, ntar kalo dah pinter kan kamu juga yang untung dapet kue gratisan. “ Kata Ellyn
“ Tumben bener kamu bikin kue, padahal kamu tuh biasanya kan sporty banget, perkasa layak laki – laki , ga cocok deh kalo kamu bikin kue. “ Ledek Andy, dan langsung reflek Ellyn mukul Andy, ouchh
“ huh kalau ga mau ya udah. “ Dengus Ellyn marah
“ eh sapa yang bilang ga mau? Mana kuenya?. “ Kata Andy sambil mengelus – ngelus tangannya yang abis ditepuk Ellyn
“ Ye masih jogging aja dah nafsu makan kamu, ntar donk. “

Setelah selesai jogging merekapun ke rumah Ellyn,
“ Masuk aja, mami , ama papi sedang pergi ke kondangan teman kantor papi. “ Ellyn mempersilahkan Andy masukAndy masuk , mereka berdua langsung menuju dapur, ternyata kue yang dibuat Ellyn sudah nampang di dapur. Ellyn memotong dan kasih ke Andy nyoba
“ Gimana Ndy? Enak? Perlu second opinion “ Kata Ellyn cemas
Andy memandang kuenya , bentuknya biasa saja, ada toping cream coklat, ada 3 lapis, ijo, kuning, sama ungu, seperti sponge cake. Andy membuka mulutnya, untuk makan, tatapan Ellyn terus memperhatikan dengan cemas, Happp, Andy menelan gigitan pertamanya, tidak ada tanda- tanda perut Andy mules, hehe.“ Gimana Ndy? “ Tanya Ellyn lagi
Andy tidak memperdulikan, terus makan sampe selesai,
“ Mana minta lagi donk? “
“ Wah enak ya??”
“ Iya enak, mana minta lagi donk, mayan kue enak gratisan. “
“ dah tuh ambil deh semua, hehe makasih ya. “

Andy segera memotong, dan makan lagi, Ellyn hanya memandangin dengan tersenyum, ahh sebenarnya kue itu buat Andy ato siapa? entahlah, Andy ga terlalu mementingkannya yang penting makan dulu mumpung gratisan euy.

Minggu depannya, Andy hanya jogging sendirian, Ellyn tidak ada dirumah, katanya pergi ke rumah teman , Andy penasaran, kemana si Ellyn? Malam itu Andy lagi asik nonton tipi di kamar, tiba – tiba hpnya bunyi, dari Ellyn!!
“ Halo Lyn, kemana aja? Kok ga jogging tadi? “
Tidak ada suara, hanya terdengar isak tangis seorang,
“Lynn, ada apa?, Kamu dimana? Kamu nangis ya? “ Tanya Andy penasaran
“ Ndy.. bisa kerumah ga? “ katanya lemah, masih terdengar suara tangisnya
“ ya bentar aku segera kesana. Tunggu ya. “ Andy menutup hpnya, dan bergegas ganti baju dan, pergi ke rumah Ellyn.

Rumah Ellyn terlihat sepi, mobilnya tidak ada, mungkin orang tuanya lagi keluar, tapi pagarnya tidak terkunci, Andy masuk, ternyata pintu didalam juga terbuka, Andy mengetuk dan memanggil Ellyn
“ Lynn kamu dimana?? “ Teriak Andy, tidak ada jawaban, hanya terdengar suara tangis dari arah dapur
“ Aku masuk ya. “ Andy masuk segera menuju dapur, Ellyn terduduk di kursi sambil menutup matanya , menangis. Andy melihat ada kue kecil di mejanya, hancur, kue yang sama seperti yang dia makan minggu lalu , hanya bentuknya sudah hancur, keliatan jatuh. Andy mendekat ke Ellyn duduk disebelahnya, dan bertanya dengan pelan
“ Ada apa Lyn? “
“ hueeee, “ Tangis Ellyn meledak, Andy tidak memaksa, ia menunggu dan memberi Ellyn tissu , sampai akhirnya Ellyn sudah lebih baikan, dan mau bicara.
“ Ada apa Lyn? Ada hubungannya dengan kue itu? “
Ellyn mengangguk lemah,
“ Alvin, sebenarnya itu kue ulang tahun yang aku buat untuk Alvin….“ Kata Ellyn masih terdengar nada sedih dari suaranya,

Ada apa dengan Alvin? Alvin juga teman sekelas Andy, dan Ellyn orangnya ganteng, kaya, banyak yang suka, hanya sombong , orangnya pemilih , ga mau teman sama anak – anak yang ga gaul seperti Andy ini. Mungkinkah Ellyn sudah dipermalukan sama Alvin ?
“ Alvin membuang kue itu saat aku berikan . “ Kata Ellyn, tangisnya meledak lagi, Andy hanya bisa mengelus kepala Ellyn, dan menenangkannya
“ Ka,,, katanya kue itu hanya pantas untuk rakyat jelata, dia ga mau menerimanya…” Kata Ellyn sedih, matanya masih merah, mukanya basah oleh air mata, Andy jadi geramm
“ Terus dia membuangnya? “
Ellyn mengangguk.
“ Dari dulu aku ga suka anak kaya satu itu, sombong banget. Dia ga pantes untuk kamu nangisi Lyn. “ Kata Andy geram, ia mengepalkan tangannya, tapi Ellyn hanya tertunduk memandang kuenya yang telah hancur, seperti hatinya yang ditolak secara kasar oleh Alvin. Andy melihat tatapan Ellyn ke kuenya, dan dia mengambilk kue itu, langsung memakannya, biar ada campuran debu dan pasri, dia nekat makan, Ellyn sampai kaget,
“ E…wnakkk,, kok, nyum . “ Andy berkata sambilt erus makan kue yang telah hancur itu, sampai akhirnya habis, Ellyn hanya bisa memandang terdiam.
“ Sudah kalau Alvin ga mau kue ini, buat aja lagi untuk aku, pasti akan aku terima , dan habisin dengan senang hati. “ Kata Andy pelan, mulutnya masih belepotan cream
Ellyn tersenyum, ia sudah bisa tersenyum
“ Katanya diet, kalau makan terus ntar tambah bulet. “ Kata Ellyn sudah mulai merasa baikan
“ Yaaa ntar kan isa jogging bareng kamu lagi. “ Kata Andy tersenyum.
Hati Ellyn senang melihat Andy, dia tersentuh atas perlakuan Andy, Andy hanya Tersenyum mamerin giginya yang penuh coklat

Panggil Aku “Miss Late”

Filed under: cEriTa CinTa — ersyaputry @ 2:55 am

Kakiku menyusuri trotoar jalan yang sempit. Pagi itu semua aktivitas dimulai, di pagi Senin yang melelahkan. Hari di mana aku harus mengumpulkan tugas kimia dan fisika, yang di dalamnya terdapat banyak rumus yang tak kumengerti. Serta tak luput hafalan Bahasa Prancis, yang jelas tujuan pembelajarannya (mungkin berguna bagi mereka yang bisa ke Prancis dan bertemu Zinedine Zidane). Tapi pelajaran itu sungguh sangat membosankan bagi orang sepertiku. Karena untuk bermimpi pergi ke negara se-Asia saja aku tak sanggup, apalagi sampai ke benua Eropa yang di dalamnya terdapat banyak ilmuwan terkenal itu.

Berbeda sekali dengan Stela yang sudah berkeliling dunia (ceritanya pada saat pelajaran bahasa Indonesia). Aku benci mendengarnya. Oh Tuhan, rasanya aku ingin kembali ke rumah dan bilang kepada ibu bahwa kepalaku sakit sekali memikirkan apa yang akan terjadi hari ini. Tapi aku harus optimis, walaupun aku sudah tahu nanti sesampainya di sekolah, aku akan belajar di luar hingga pelajaran pertama usai. Karena belum bisa mengumpulkan tugas kimia tepat waktu. Sungguh, hari-hariku tak lepas dari penderitaan.
Dugaanku benar, Ibu Zenith tak sedikitpun kasihan padaku, yang tiap harinya menderita karena PR yang menumpuk di rumah. Dia memarahiku habis-habisan dan membuang 15 menit waktu mengajarnya hanya untuk menceramahiku tentang kebiasaan jelekku. “Kamu ini, kapan sih mau berubah! Nggak pernah rapi, sering terlambat ke sekolah. Bahkan kebiasaan terlambat kamu itu juga menular dalam mengantar tugas. Mau jadi apa kamu, Joan?” ceramahnya padaku.
“Tapi hari ini saya nggak terlambat kok, Bu…” belaku.

Ibu Zenith semakin berapi-api mendengar pembelaanku, hingga akhirnya aku pun kalah di meja hijau. Dan kartu merah yang dilayangkan wasit Zenith membuatku terpaksa keluar dari lapangan dan meninggalkan kompetisi ini. Sungguh melelahkan menunggu di luar hingga pelajaran pertama usai.
Pagi ini, kimia sudah membuatku apes. Belum lagi menjadi pusat perhatian anak-anak di kelas sebelah. Ya Tuhan, apakah hamba-Mu yang manis ini pantas diperlakukan seperti ini hanya karena belum menyelesaikan tugas ibu guru yang sering menatapku seperti sedang melihat kutu di rambut gondrong Pak Tedye? Benar-benar tidak adil.

Akhirnya hukumanku pun berakhir. Aku masuk ke kelas dengan rasa bangga seolah baru saja pulang dari perang dan membawa kemenangan, layaknya Sarwo Edhi Wibowo yang menjadi pemimpin dan berhasil menguasai pemberontakan di Jakarta dalam penumpasan G-30-S. “Hari yang melelahkan,” ucapku sambil meletakkan tas di atas meja. Stela tertawa kecil, menatapku dari ujung kaki hinggga ujung rambut dan mulai berbisik. Aduh, apalagi yang dibicarakan nenek sihir itu.
Pelajaran kedua dimulai. Pak Dede masuk dengan membawa tumpukan kertas. Hatiku mulai gelisah, takut, dan… “Hari ini kita ulangan”

Deeeer…kalimat itu akhirnya keluar juga dari mulut ahli fisika di sekolahku yang terkenal sering membuat kejutan untuk muridnya itu, termasuk yang satu ini. “Ulangan dadakan.” Kalimat yang tadinya membuat hatiku gelisah dan takut itu kini berubah menjadi malapetaka. Yah, musibah kedua di hari Senin. Anak-anak di kelas komplain, protes, de el el. Termasuk yang benar-benar diragukan kemampuannya dalam hal berhitung dan menghafal rumus. “Tidak ada yang bicara, hanya ada kertas selembar dan pena!” ucapnya sambil menghitung lembaran kertas ulangan yang akan dibagikan.
Tidak ada yang kami lakukan selain menerima takdir. Sungguh menyedihkan. Kertas ulangan mulai dibagikan dan kini giliran untukku.

“Apa kamu sudah siap untuk ulangan, miss late?” Tanya Pak Dede sambil tersenyum sinis. Kumisnya yang bergaya ala Adolf Hitler tak lagi tampak lucu seperti hari-hari biasanya. Aku hanya terdiam dan sedikit tersenyum gelisah. Aku yakin dia sudah bisa membaca jawaban di jidatku yang sudah tertulis rapi “Saya Belum Siap.” Hari ini ku mohon ada mukjizat dan Joseph Black, John Dalton serta Prescott Joule berada di sampigku saat ulangan nanti.

Perangpun berakhir. Adolf Hitler sudah keluar lima menit yang lalu. Stela terlihat gelisah. Aku tahu kemampuannya dalam hal ini tak berbeda jauh denganku. Kegelisahanku berakhir. Dan masih ada waktu seminggu untuk merefleksikan telingaku, sebelum minggu depan diceramahi habis-habisan oleh ibu. Karena aku yakin nilai ulanganku kali ini pasti di bawah limapuluh. Sebab orang-orang pilihanku tadi tak menghampiriku dan memberikan jawaban. Siapa lagi kalau bukan Dalton, Joule, dan si Black. Kita lihat saja nanti.

“Kayaknya hari ini miss late nyantai-nyantai aja nih ulangannya…,” ucap Stela.
“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, pembual!” balasku sinis
“Kenapa? Nggak suka yah? Miss late..,” tambahnya lagi.
Kali ini sebutan itu terdengar lebih kuat. Hari ini aku terlalu lelah untuk meladeni nenek yang satu ini. Dan aku pilih cara yang satu ini.
“Eh, pembual….lo nggak nyadar yah?” balasku jengkel.
”Apa?” tanya Stela penasaran
“Ada deh. Tapi gue saranin jangan keluar kelas deh, ntar lo bisa malu seumur hidup,” jawabku sambil tertawa, keluar kelas.

Wajahnya pucat pasi. Darahnya menggebu-gebu, penasaran dan sibuk memperhatikan penampilannya. Dan aku pastikan dia bertanya pada teman-teman. “Ada yang salah dengan penampilanku hari ini? Make-up ku? Bajuku? Aksesorisku? Rambut baruku? Atau apa…?” Hahaha, aku suka itu.
***
Pulang sekolah, masih melewati jalan yang sama. Trotoar. Banyak kaki lima.Orangmondar mandir. Uhh… benar-benar sibuk. Kakiku melangkah pasti menuju jalan pulang, perempatan jalan terdekat menuju rumah. Dan di sinilah kutemukan sisi positif dari miss late yang benar-benar sudah membuatku terkenal. Huhh..tak kusangka.

“Terima kasih atas bantuannya kemaren,” ucap seorang pria berpostur tinggi tegap dengan rambut bergaya ala Lee Mong Long dalam serial drama Korea Sassy Girl kesukaanku. Mimpi apa aku semalam, cowok berparas manis ini tiba-tiba memotong jalanku.

“Untuk apa? Kita pernah kenal ya?” Tiba-tiba aku menyesal melontarkan kalimat itu. Bukan. Seharusnya aku bilang, “ya sama-sama…itu belum seberapa.” Tapi tidak mungkin, aku tidak mengenalnya. Dan kebaikan apa yang sudah aku lakukan untuknya, otakku berusaha membuka memori lama, tapi sosoknya benar-benar tak ada di sana.

“Kita memang nggak pernah kenal. Aku Satya,” balasnya sambil mengulurkan tangan.
“Lantas….” “Kamu miss late ‘kan?” Sialan. Harusnya dia bilang, “Kamu Joana anak kelas X.C yang manis itu ‘kan..” Mengapa nama itu yang mengawali pertemuanku dengan pangeran ini… huhhh “Yah… begitulah. Ada apa yah…,” balasku yang mulai gusar.

“Pak De-ku meminta aku mengucapkan rasa terima kasihnya ke kamu. Soalnya kemaren kamu sudah bantuin dia…” ucapnya. Waduh, aku benar-beanr ditipu oleh wajah manisnya yang kukira benar-benar Lee Mong Long. Ternyata logat Jawa itu keluar juga.
“Pak De kamu? Perasaan saya, saya enggak pernah bantuin Pak De kamu deh…salah orang kale…,” jawabku.
“Ndak. Aku ndak mungkin salah. Dia sendiri yang nunjukin orangnya ke aku. Dan orang itu kamu,” tambahnya lagi. Huhh, lama-lama aku dibuat kesal olehnya. “Ok. Langsung aja. Nama Pak De-mu?” tanyaku tanpa basa basi lebih jauh.
“Pak De Suryo. Satpam SMA mu…,” jawabnya.
Ya, Tuhan. Pak Suryo yang sering bukain pintu kalau aku terlambat itu ternyata punya keponakan semanis ini? Ke mana aja gue? Sial..tapi…
“Bantuan apa ya?” tanyaku lagi.
“Minjemin dia uang. Ingatkan?”
Aku mengangguk. Dia menatapku polos dan…
“Namanya bagus ya mbak…,” tambahnya.
Deeeer…nama kutukan itu? Baru kali ini mendapat pujian, dari orang semanis dia. Ya tuhan, aku benar-benar terharu. Hikz..hikz…

Huuuhhhh…pertemuan singkat ini benar-benar membuatku bahagia. Satyo dengan logat Jawa yang menipuku dengan tampang Lee Mong Long ini benar-benar membuatku gelisah siang dan malam. Jangan-jangan aku terkena penyakit berbahaya, Yah…apa lagi kalau bukan jatuh cinta. Bukankah penyakit itu berbahaya untuk anak seusia aku? Dan kumohon jangan pernah berhenti panggil aku miss late…

Cinta Pertama

Filed under: cEriTa CinTa — ersyaputry @ 2:53 am

Namun perasaan ragu selalu mendera hatiku. Akankah Adit punya perasaan yang sama denganku. Aku tidak mengenal baik Adit. Aku setahun lebih tua darinya. Status sosial keluargaku dan keluarga Adit bagaikan langit dan bumi. Ayah Adit seorang pengusaha sukses dan ibunya seorang guru. Sedangkan keluargaku adalah keluarga termiskin. Ayah tiada sejak aku masih kelas 1 SD. Ibuku kemudian berjualan kue-kue untuk menghidupi kami yang sehari hanya menghasilkan uang sekitar limabelasan ribu. Aku juga sering membantu menjualkan kue-kue ibuku ke sekolah. Namun semua itu belum cukup untuk membiayai ibu dan kami, empat bersaudara. Aku sendiri pernah diusir dari kelas karena belum membayar uang bulanan sekolah selama tiga bulan. Karena kondisi itu aku menjadi seorang yang pendiam dan rendah diri.

Kemarin tanpa sengaja aku bertemu dengan Doni ketika pulang sekolah. Doni adalah sahabat Adit sejak SD. Jika Adit adalah seorang yang pendiam, Doni seorang cowok yang supel. Hampir semua orang mengenalnya. Dengan senang hati Doni menawarkan boncengan motornya dan mengantarkanku sampai rumah. Di jalan Doni bercerita:
“Mbak, kemarin Adit cerita kalau dia sebenarnya naksir sama cewek di desa kita juga ini lho,” cerita Doni memanggilku dengan embel-embel Mbak, tradisi di desa kami untuk menghormati orang yang usianya lebih tua.
”Yang bener aja, Don? Emangnya siapa?” “Tak tahu juga mbak, Adit tak sebut nama,” “Iyakah? Tapi di desa kita ini ‘kan banyak ceweknya?”.

“Iya juga ya mbak, and….kira kira siapa ya? Hayooo siapa………..?”
“Ooi oi siapa dia oh siapa dia,” Doni malah menyanyi seperti pembawa acara Kuis Siapa Dia di TVRI waktu kami kecil dulu.

Aku hanya bisa tersenyum kecil, namun tak urung percakapan tadi membuat aku punya harapan. Tapi, ah tak mungkin masih banyak teman-temanku yang lebih pantas untuk dijatuhin cinta sama Adit. Meski kami satu sekolah tapi di sekolah pun aku hanya bisa menatap Adit dari jauh, ketika tanpa sengaja aku bertemu dengan Adit di kantin, di perpustakaan atau ketika sama-sama nonton pertandigan olahraga di lapangan sekolah, Adit tak pernah berusaha menyapaku. Kalau aku menyapa Adit duluan, tengsin ah. Aku masih berharap Adit yang memulainya.

Hari sudah beranjak sore, ketika kudengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah. Segera kubuka pintu setelah terdengar ketukan. Ternyata Doni dan….Adit. Doni mau meminjam soal-soal ulangan umum sekolah. Kukernyitkan dahiku, aku heran, untuk apa bukankah dia lain sekolah denganku?.

“Ehm….tenang mbak, tenang. Bukan untuk aku ko, Mbak. Itu tu untuk Adit,” kata Doni seperti mengetahui keherananku. Kenapa sih tak mau bilang sendiri, toh udah di sini. Batinku agak kesal.

“Boleh kan Mbak, Mbak Tari yang baik…?” Aku melirik Adit yang hanya tersenyum tipis. Aku segera masuk rumah, dan mengambil lembaran soal-soal ulangan umum yang selalu kusimpan rapi tiap semesternya. Ketika kuberikan lembaran-lembaran itu, kubilang sama Doni agar nanti Adit yang mengembalikan sendiri. Doni hanya mengangguk.

****

Siang itu, ketika aku sedang ngobrol dengan temanku di halte, tiba-tiba …gedubrak….. terdengar suara seperti tabrakan. Kami terkejut, terlihat seorang pengendara motor yang nampak kesakitan jatuh terlempar beberapa senti dari motornya. Aku dan temanku segera menghampirinya. Orang-orang pun segera berhamburan menengoknya. Seketika jalan menjadi macet total. Beberapa orang segera mengangkat tubuh yang kesakitan itu ke halte. Kulihat darah keluar dari pelipis kanan dan siku tangan kanannya, dan ternyata dia adalah Adit. Namun tak lama polisi datang membubarkan kerumunan dan segera membawa Adit ke rumah sakit terdekat. Aku dan temanku menemaninya tanpa diminta.

Sesampainya di rumah sakit, Adit dibawa ke ruang gawat darurat. Polisi meminta sedikit informasi mengenai Adit. Aku mengatakan Adit adalah tetanggaku dan segera memberikan alamatnya. Polisi akan segera menghubungi pihak keluarga Adit. Lima menit kemudian temanku meminta pamit karena sudah terlambat pulang. Meski aku keberatan, kuanggukkan juga kepalaku.

Satu jam kemudian Adit di bawa ke ruang perawatan. Ruang itu terdiri dari empat tempat tidur ditata berjajar yang hanya dipisahkan oleh tirai putih. Adit mendapatkan tempat di dekat jendela. Kulihat Adit masih tertidur ketika perawat meninggalkan kami. Kamar ini hanya berisi aku dan Adit. Aku duduk di ranjang pasien sebelah tempat tidur Adit. Kutatap wajah Adit yang bagian pipinya masih lebam, pelipis dan tangannya dibalut perban, baju seragamnya telah berganti baju seragam rumah sakit. Kulirik jam tangan Adit, sudah hampir pukul 3 sore. Ke mana ya keluarga Adit, batinku. Aku turun dikursi dan kutelungkupkan kepalaku di ranjang. Di ruangan AC begini aku merasa ngantuk sekali.

Aku terkejut ketika perawat masuk membawakan obat untuk Adit, segera kuusap mukaku dan sedikit kurapikan rambutku. Kutengok Adit sudah terbangun, dan segera meminum obat yang dibawa perawat itu. Perawat kembali pergi setelah kuucapkan terimakasih kepadanya. Kami sama-sama saling terdiam tak tahu harus berkata apa. Beberapa menit berlalu, kucoba memecahkan kekakuan ini.

”Dit, gimana rasanya, apa sudah baikan?” tanyaku lirih, agak salah tingkah sambil kusandarkan badanku ke dinding jendela. “Lumayan Mbak, Mbak dari tadi nungguin aku ya?” tanya Adit lemah.
Aku hanya mengangguk. Kami sama sama terdiam lagi, meski aku sangat senang berada di sini bersama Adit, tapi rasanya lidah ini kaku untuk mengajaknya bicara.

“Oya, ke mana Ibu Adit ya, kok sampai sekarang belum datang juga. Tadi polisi menjemput ke rumahmu lho?” tanyaku sambil memainkan kakiku dengan sesekali menatap kepada Adit.

“Mungkin di rumah tak ada orang, Mbak. Ibu setiap hari ada jadwal kuliah. Biasanya sih pulang jam setengah enam. Adikku juga les bahasa Inggris. Paling Mbok Warti yang biasa bantu kami bersih-bersih rumah,” jawab Adit dengan lemah sambil memalingkan wajahnya sedikit ke arahku. Aku hanya bisa mengangguk-angguk dan kembali terdiam.
Ketika senja sudah beranjak pergi, kudengar langkah tergesa memasuki kamar. Ayah dan ibu Adit yang kelihatan sangat mencemaskan Adit, segera menghampirinya yang terbaring lemah. Baru setelah itu ibu menoleh kepadaku dan mengucapkan terima kasih. Tak lama berselang Doni datang dengan kecemasan juga, Doni tersenyum padaku sebelum menyapa Adit. Wah untung ada Doni, bisa minta tolong nganterin aku pulang. Aku sudah capek dan lapar, dan pasti ibu juga khawatir banget aku telat pulangnya. Segera kuberbisik pada Doni untuk mengantarku pulang. Dan ternyata Doni mengiyakannya. Aku segera berpamitan pada ayah ibu yang tak henti mengucapkan terimakasih kepadaku karena sudah menemani Adit, begitu juga Adit dengan diiringi senyum manisnya.
***
Seminggu berlalu sejak peristiwa kecelakaan itu, di suatu sore ketika aku sedang memarut kelapa di dapur bersama ibu, terdengar bunyi motor berhenti di depan rumah. Aku segera keluar setelah mendengar pintu rumahku diketuk. Adit, dia memberikan kue tart coklat yang cantik yang biasanya hanya bisa kutengok di etalase toko roti, sebagai rasa terimakasih dari keluarganya. Kata Adit, itu bikinan ibunya. Satu lagi, dia mengembalikan soal-soal ulangan umum yang dulu pernah dipinjamnya bersama Doni.

“Mbak ini sesuai janji Doni, kalau aku yang akan mengembalikannya sendiri,” kata Adit sambil menyodorkan soal-soal ulangan umum itu dan menatapku penuh arti. Aku salah tingkah, seumur-umur aku belum pernah ditatap orang seperti itu. Tatapan yang membuat aku besar kepala. Tapi Adit langsung berpamitan. Dan ketika akan kuletakkan kumpulan lembaran soal-soal itu sebuah kertas berlipat jatuh dari sela-selanya, mungkin punya Adit yang terselip di lembaran ini. Segera kuambil dan kubuka, kubaca tulisan di dalamnya:

Older Posts »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.