Ersyaputry's Blog

21/02/2010

Fans Berat

Filed under: cEriTa CinTa — ersyaputry @ 2:48 am

Arez tetap bernyanyi dengan wajah coolnya meskipun di tempat itu ada ribuan bahkan jutaan ummat wanita yang meneriakan namanya. “ I LOVE YOU… AREZ…!!! “ teriak Rara jejingkrakan sambil menggapai-gapaikan tangannya ke udara untuk meraih tangan penyanyi solo laki-laki asal negara Korea tersebut. Rara adalah seorang fanatic Arez yang selalu saja mengikuti hampir semua berita-berita Arez sang penyanyi idola meskipun Rara adalah warga asli Indonesia. Dia percaya bila suatu saat nanti keajaiban yang hanya terjadi di dunia komik itu terjadi. Keajaiban bahwa nantinya Arez sang pangeran kuda putihnya akan mengakui keberadaan Rara dan akhirnya Arez menyukainya. Ya dia sangat percaya itu.

“ I Love you too, Rara “ Ucap Arez yang sekarang menggenggam tangan Rara dari atas panggung. Arez memandang Rara dengan tatapan yang selalu di banggakannya sebagai tatapan paling indah yang di ciptakan Tuhan kepada makhluknya. Rara tak sanggup menampung rasa senangnya sehingga dia pingsan.Bruuuuaakk….!! Rara terjatuh dari tempat tidurnya. “ Arezzz!!! Aduuuhh… Astaghfirullah…!! Ternyata gw cuman mimpi. “ ringis Rara sambil bangkit dari lantai dan memutarkan pinggangnya ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada tulang yang patah. Usai memastikan tidak ada tulang-tulangnya yang patah Rara memandang sekelilingnya kamarnya. Masih yang dulu. Kamar seluas 4x3m, bercat dinding hijau muda dan penuh dengan poster-poster Arez. “ ahh… ternyata beneran mimpi. Padahal lagi asyik-asyiknya ketemu calon pacar, eh malah jatoh dari tempat tidur. Duuhh..” dumel Rara dalam hati. Rara berjalan menuju poster wajah close up Arez yang berukuran paling besar diantara koleksinya. “ anyong haseo, Arez.!” Rara tersenyum malu di depan poster tersebut dan memalingkan wajahnya ke jam dinding berbentuk Doraemon. “ masya allah.! Dah jam setengah 7.!?” Pekik Rara. “Gw kan belum sholat shubuh, mandi juga belum. Wadoh, telat dah ke sekolah,! “ Rara makin panik. Teringat lah wajah Pak Sumarwan, guru olahraganya yang berkumis tebal dan paling galak diantara guru-guru lainnya apalagi guru itu paling kritis dalam masalah kedisiplinan. Guru yang konon udah gak pernah senyum lagi semenjak jadi guru.

“hii….. merinding gw kalo bayangin tuh guru. Yodalah dari pada gw telat, mending sholat shubuhnya lewat aja dulu. ntar sholat dzuhur dan lainnya gak bakalan telat deh. Janji. “ Rara berbicara dalam hati, dan langsung melesat ke belakang untuk mengambil handuk lalu mandi. Dengan tampang ngos-ngosan setelah berlari dari perempatan yang biasanya di lewati angkot ke sekolah, Rara akhirnya sampai di sekolahnya dengan waktu yang sangat nyaris. “ wih.. selamet.. selamet. Untung gw gak telat nyampe sini. Kalo gak gw bakal jadi mangsa Si kumis Marwan dah. Mending ganteng kaya Arezz. Kyaa..!! Arezzz!! Iya gw baru inget kalo gw harus nyampein data penting tentang Arez ke temen-temen.” Rara mesem-mesem sendiri di tengah jalan menuju kelasnya sambil berlari-lari kecil.

“ Pokoknya Arez tersayang emang top dah.!! “ tanpa sadar Rara malah berteriak di lapangan sekolahnya. Jadilah ia dapat tatapan anak-anak yang lain yang kebetulan sedang berada di lapangan sekolah. Tatapan yang entah artinya kasian karena ada cewek cantik yang agak gila ato ngeri karena ada cewek cantik yang agak gila. Tapi, Rara dah gak mikirin itu, udah terlanjur malu baginya untuk mengetahui arti tatapan teman-temannya. Rara hanya semakin mempercepat laju larinya. Rara berharap dengan berlari, rasa malunya dapat berkurang. Sesampainya di kelas ternyata Bu Jariyah yang mengajar jam pelajaran pertama di kelasnya telah duduk manis di kursinya. Dengan penggaris besi andalannya di tangan. Tak lupa wajah masam khasnya menghiasi wajahnya yang sudah mulai keriput. “ mampus dah gw! Nih Ibu udah dateng lagi. Mana ibu ini Pak Sumarwan versi Ibu-ibu lagi. Ya Allah apa dosa hambamu ini.? Hiks.” Rara meringis dalam hati sebelum masuk ke kelas.

“ Assalamu’alaikum, Bu. Maaf saya terlambat, tadi macet Bu.” Rara meminta maaf dengan sedikit berbohong. Sedikit pikirnya, karena tadi emang sedikit macet di jalan. Meskipun tidak terlalu berpengaruh dengan keberangkatannya. “ Hmmm..” Ibu itu bergumam sambil menuliskan sesuatu di bukunya. Jawaban ‘Hmmm’nya Ibu itu sudah cukup bagi Rara sebagai jawaban “ iya,nak silahkan duduk” dengan senyuman penuh kemenangan Rara berjalan melewati teman-temannya untuk ke kursinya yang berada di pojok kelas. “ HEI!! Siapa yang nyuruh kamu duduk ? “ bentak Bu Jariyah sambil memukulkan penggaris besinya ke meja. “ Loh? Bukannya Ibu tadi sudah menyuruh saya duduk? “ Rara sedikit ketakutan. “ Oh, ternyata teman kalian satu ini telinganya sudah tidak beres.” Bu Jariyah mengejek dan semua tertawa pelan.

“ Atau teman kalian ini sudah begitu hebat sehingga dapat mengartikan gumaman ibu sebagai jawaban untuk duduk.? begitu Rara? “ “ tidak Bu. “ Rara menahan tangisnya yang hamper pecah karena takut dan malu bercampur aduk di dadanya. “ Rara sekarang sebelum kamu duduk. Kamu bisa berdiri dulu di depan kelas mungkin kamu dapat mendengar lebih jelas bila di depan.” Ucap Bu Jariyah dengan tampang polos. Setelah melalui menit-menit yang cukup berat, akhirnya Rara dapat kembali duduk di kursinya. “ Haa… akhirnya. “ gumamnya ketika Bu Jariyah telah mempersilahkannya duduk. “ tunggu aja sampai waktu istirahat. Rasa capai ku pasti terbalas. Haha.. Arez saranghe “ Rara bergumam dalam hati sambil senyam-senyum.

“ Kenapa senyam-senyum di pojokan Rara? Apa hukuman ibu masih kurang ?” Bu Jariyah menyindir. “ Ga Bu. “ Rara terdiam, semua tertawa. Pelajaran selanjutnya berjalan dengan normal. Kecuali satu sindiran guru Biologinya ketika Rara bengong karena memikirkan : AREZ. Yah hanya itu. Setelah pelajaran Biologi yang cukup panjang akhirnya waktu istirahat tiba. Langsung saja Rara memanggil teman-teman perempuan lainnya sesame pecinta Arez untuk duduk berkumpul di sekitar mejanya dan Rara langsung menyambar beberapa lembar kertas di dalamnya. “ Hehehe.. Ta-Da..!!! Ini dia data-data yang berhasil gw kumpulin tentang pacar gw Arez!! “ Rara mengeluarkan data-data tersebut di atas mejanya dengan sedikit sombong. “ Kyaa Arez!! Makasih banget Rara dah susah-susah nyariin data ini. Wah lo emang teman kita yang paling baik. Fans Beratnya banget lo, Ra.

“ Sinta yang sesama PA, yang berarti ‘ Pecinta Arez’ bukan ‘ pecinta alam ‘ sangat bahagia. “ Iya dong.. Rara gituloh! Rara si PA nomor 1. tau gak kemorang gw nyari semua ini dengan menorbankan berjam-jam waktu gw. Sampe jam 12 malem nih gw cari di internet sama majalah. “ Rara memberi tahu teman-temannya dengan sangat bangga. “ Loh? Jadi lo semalem gak belajar, Ra? “ Ucap Randy yang tiba-tiba ikut nimbrung. “ yah, mumpung gak ada kerjaan boleh dong gw males-malesan dulu. Lagian ulangan aja gak ada kan? “ Rara bertanya kepada Sinta. “ Hehehe.. gimana ya, Ra. Gak tega gw bilangnya.

Tapi karena lo temen gw. Ya sudahlah gw kasi tau. Tapi.. “ “ Aih Lo nie gak jelas banget sih Sinta. Ngomong itu yang jelas dong. Gak ngerti tau gw. “ “ BEGO..!! kita ini ulangan Fisika abis istirahat. “ Randy menjawab menggantikan Sinta. Rara syok. “ LO tau kan Fisika adalah pelajaran paling sulit bagi kelas kita ini. Dan lo malah ngabisin waktu lo demi orang yang gak bakal tau lo. PA lo ! ( p.s. yang tadi sindiran bukan ‘ pecinta Arez’ apalagi ‘pecinta alam’ ) Randy yang merupakan sahabat Rara kesal dan akhirnya pergi keluar kelas dengan membawa buku catetan fisikanya. “ temen-temen. Randy bohongan kan? Iya kan? “ Rara mulai panik. “ Ga, Ra. Randy gak bohong. “ Sari menjawab dengan sedikt takut-takut.

“ Huwaaaa.!! Pergi kemorang sekarang dari meja gw .! Gw mau belajar! Cepet pergi.” Rara yang panik langsung menyimpan data-datanya tentang Arez dan mengeluarkan buku catetan fisikanya ketika bel tanda masuk telah berbunyi. “ mampus gw!! Hancur sudah nilai ku. Hiks.. gak! gw gak boleh dapet jelek, bukannya gw dah bercita-cita untuk ngelanjutin sekolah ke luar negeri. Kalo sekarang gw dapet nilai jelek bisa hancur cita-cita gw. “ Rara ngedumel dalam hati .

“ yap, gw harus buat contekan. Gapapa lah gw ngelanggar janji gw sekali ini. Ya Allah maapkan hambamu ini. Amin“ setelah berdoa Rara langsung dengan kecepatan super menuliskan beberapa hal-hal penting ke sebuah kertas kecil yang rencananya bakal menjadi contekan pas ulangan. Ulangan pun di mulai. Pak Hardy mulai membagikan soal-soal ulangan kepada semua muridnya dalam keadaan terbalik. semuanya memandang dengan cemas ke arah kertas putih yang berada tepat di depan mereka. Seakan-akan pandangan mereka dapat melihat tembus ke dalam soal tersebut. “ Yah semuanya. Ulangan di mulai.

Silahkan buka soalnya dan kerjakan sekarang. Jangan mencontek.” Pak Hardy memerintahkan sambil duduk di kursinya sambil membaca koran yang sengaja di siapkan agar guru terfokus terhadap koran, bukan murid-muridnya. Benar saja, Pak Hardy ternyata sedang asyik dengan korannya. Melahap semuat artikel-artikel di dalamnya. Sehingga tanpa sadar murid-muridnya sekarang sedang asyik mencontek. Termasuk Rara. Rara dengan gamblangnya membuka kertas contekannya dan langsung menyalin semua yang ada di kertas itu. Tanpa sadar di pojok lain kelas, Randy melihat Rara dengan tampang yang mengejek. “ Yah, waktu habis. Semuanya letakan pena di atas meja dan kumpulkan sekarang.! “ Pak Hardy memerintah diikuti teriakan teriakan kecil frustasi anak-anak yang belum selesai mengerjakan.

“ Akhirnya selesai juga. Arez, cita-cita aku gak jadi hancur nih. Makasih banget yah.” Rara mencium poto Arez yang menjadi Wallpaper di hapenya. Jam-jam pun berjalan dengan lambat, hingga akhirnya jam di dinding kelas menunjukan pukul 01.00 WIB yang menandakan sekarang adalah waktu pulang sekolah. Rara jejingkrakan karena ini juga berarti perkumpulan PA dapat kembali di lanjutkan. “ Eh, Ra. Kamu gak sholat Dzuhur dulu? Tadi belum kan? “ Aisyah mengingatkan Rara. “ Duh, ntar lagi lah, masi capek banget nih, sah. Aku mau istirahat dulu sambil ngobrolin tentang Arez. Kamu mau ikut gak? “ tawar Rara. “ gak deh. Aku mau langsung pulang saja. Kamu jangan lupa sholat yah, Ra. “ “ Oke deh, Aisyah.” Ucap Rara sambil berjalan ke arah teman-teman lainnya kumpul. “ Wah hari ini kok gw kayanya sial mulu yah? Dari bangun tidur sampe pulang sekolah sialnya dah numpuk. Duuh.. “ Rara mengawali obrolan. Kepada teman-temannya. “ udah gak usah dipikirin, Ra. Sekarang kita mikirin si Arez aja. Arez pacar gw itu loh” Sinta berbicara dengan mupengnya.

“ udah lagi kalian para wanita! Mimpi mulu siang bolong. Masih aja ngarepin cowok gak jelas yang jelas-jelas gak tau kemorang yang selama ini selalu aja ngikutin berita tentang dia. “ fiki dan sejumlah laki-laki lain ikut nimbrung. “ Ye sewot amat si kemorang para lelaki, gak bisa liat orang senang “ Sinta dan yang lainnya sewot. “ Huu.. yodahlah bosen kami semua ingetin kemorang. Di kasih tau yang bner kok malah sewot. “ Fiki berucap sambil ngeloyor pergi dan diikuti yang lain. Memang sih selama ini para cowok di kelas mereka sama sekali gak suka dengan hobi baru para cewek yang selalu ngomongin AREZ. Entah Arez sakit lah, entah Arez senyum lah, Entah Arez mau kawin lah sama bini’ oranglah. Huuu.. Arez pokoknya. Dan sudah jutaan kali pula para cowok ngingetin untuk berubah tapi malah di tanggepi dingin oleh para cewek yang lain. Hingga akhirnya mereka bosen sendiri ngingetin dyorang.

“ Yodah gw sholat dulu yah, ntar kita lanjutin lagi.” Ujar Rara kepada yang lain. “ Aih mau kemana lo. Sebentar dulu geh. Cerita dulu ke kita-kita ini. “ Mohon Sari yang diikuti oleh yang lain. “ hmm.. ya sudahlah. Oke gw cerita. Eh lo tau gak? Ternyata Arez itu………………….” Berlanjut teruslah obrolan mereka, hingga tak terasa Adzhan Ashar berkumandang. Dan itu juga berarti bahwa Rara kembali tidak sholat. Rara sangat menyesal. Tapi yah mau gimana lagi pikirnya, sudah terlanjur. Karena takut kelupaan sholat lagi Rara lalu mohon izin untuk pulang ke rumah. Di jalan, Rara tidak lah langsung pulang ke rumah. Dia teringat bahwa artis favoritnya itu sedang mengeluarkan lagu terbaru yang lagunya selalu memawa Rara terbang. Dia berjalan kaki dahulu untuk mencapai sebuah pasar yang isinya menjual banyak sekali kaset-kaset bajakan. Disana ada kaset film, lagu, hingga kumpulan foto-foto artis.

Berjalanlah Rara mencari kaset baru mengenai Arez. Tak terasa sejam sudah Rara mencari namun hasilnya nihil, ternyata lagu terbaru Arez belum sempat di bajak oleh seniman-seniman jalanan penjual kaset bajakan tersebut. Pulang lah Rara ke rumah dengan perasaan sedikit kecewa. Sesampainya di rumah Rara langsung berganti baju dan tidur-tiduran di kasurnya. Dia merasa sangat letih karena tadi dia terlalu bersemangat di sekolah dalam menceritakan Arez dan karena tadi dia juga telah berkeliling pasar untuk mncari lagu terbaru dari penyanyi asal korea tersebut. “ Ahh.. tidur-tiduran sebentarlah ntar setengah jam lagi gw baru bangun terus sholat Ashar” pikirnya dalam hati. Tanpa terasa waktu terus berjalan hingga jam di dinding Rara menunjukan pukul 8 malam, dan ini berarti Rara terlewatkan untuk sholat ashar dan maghrib. “ Astaghfirullah.. gw lupa sholat lagi. Aduh pasti ini karena kecapean di pasar tadi. Duuh gimana nih ? ahh ya sudah lah. Besok-besok gw pasti sholat kok. “ Rara menganggap enteng kembali. “ Rara, kamu baru bangun yah? “ Tanya mamanya dengan nada seperti ada yang di sembunyikan ketika Rara datang ke dapur. “ ahh, iya ma. Maaf yah Rara tadi kecapean banget sih. Oh iya mah. Gimana dengan hasil tes beasiswa itu? Apa sudah ada balesan ? “ Rara bertanya dengan semangat. Selain karena dia sangat ingin bersekolah ke luar negeri dia juga yakin bisa mendapatkan beasiswa tersebut mengingat prestasinya di bidang akademis yang baik. Bahkan sangat baik. “ hmm.. anu, tadi. Aduh gimana yah mama ngomongnya. Itu loh, Ra. “ Mamanya Rara tak sanggup mengungkapkannya. “ Apa sih, ma. Oh itu yah ma suratnya ?” tunjuk Rara ke sebuah surat berwarna coklat yang berada di atas meja makan. “ aih mama ini. kok gak bilangin Rara kalo sudah dateng. Rara itu nung… “ ucapan Rara terhenti ketika dia melihat isi surat tersebut. Surat itu mengatakan bahwa Rara gagal dalam mengikuti tes beasiswa. Rara syok. Dia menangis tersedu-sedu di pelukan ibunya. Cita-citanya untuk bersekolah di luar negeri kandas sudah. Memang sih pada minggu-minggu menjelang tes, Rara bukannya belajar malah asyik mendengarkan lagu-lagu Arez. Sekarang Rara sadar, Rara terlalu sibuk dengan Arez. Hanya Arez yang ada di dalam pikirannya. Dalam keadaan hati yang kacau, Rara langsung mengambil air wudhu. Ia sholat Isya dengan khusyuknya seperti malam-malam sebelum Arez datang dan memenuhi otaknya. Selesai sholat ia langsung menengadahkan tangannya sembari berdoa kepada Allah SWT. Dia sadar kalo selama ini khilaf.

“ Ya Allah, maafkan lah hambamu ini. hamba telah menomorkan duakan dirimu ya Allah. Aku telah lalai menjalan perintahmu ya Allah.aku terlalu sibuk dengan manusia ciptaanmu dan malah tidak memperdulikan engkau yang maha pencipta. Aku malah memikirkan dia di saat orang-orang datang menyembahmu. Aku khilaf ya Allah. Aku tobat.” Rara berdoa dengan sungguh-sungguh. Tak terasa kedua matanya meneteskan air mata. Bukan air mata yang selama ini ia keluarkan demi Arez melainkan air mata yang ia keluarkan karena merasa hina dihadapan Tuhannya, Allah SWT. Sekarang pikiran Rara melayang pada saat ia bangun tidur tadi ketika ia jatuh dari tempat tidur ketika ia sedang memikirkan Arez, sehingga terlambat mengerjakan sholat shubuh dan di hukum gurunya karena terlambat. Di saat ia di tegur gurunya karena bengong memikirkan Arez, ketika Randy marah terhadapnya karena ia lebih memntingkan Arez dari pada belajar, ia teringat ketika melanggar komitmennya untuk tidak mencontek, ia ingat wajah sahabatnya yang merasa hina melihat dirinya, ia ingat ketika melanggar janjinya kepada aisyah untuk sholat dzuhur, ia ingat telah melangkahkan kakinya ke pasar demi Arez bukannya ke masjid demi Tuhannya, ia teringat ia tertidur karena kacapaian mencari tentang Arez sehingga lewat lah sholat ashar dan maghrib, ia ingat bahwa ia telah menganggap enteng sebuah sholat, ia ingat saat membaca surat hasil tes beasiswa, ia ingat bahwa Tuhannya hampir saja berubah menjadi seorang Arez bukannya Allah SWT.

Saat itu Rara baru sadar selama ini sudah banyak sekali teguran-teguran Allah kepadanya. Teguran-teguran yang selama ini di anggap ringan oleh dirinya. Teguran yang yang kalah dengan senyum Arez. Pecahlah tangis Rara. Tangis yang sangat kencang sehingga ia tak mampu mengendalikannya. Malam itu juga ia hapus semua data-data tentang Arez di komputernya. Ia ganti dengan lagu-lagu yang bermotivasi, ia juga mengganti semua poster-poster wajah Arez dan di gantikan dengan para penemu dan ayat-ayat suci, ia robek semua data-data Arez di tasnya. Dan di gantikan kembali posisi Allah menjadi yang pertama. Bukan lagi Arez. Malam itu Rara menelpon Randy dan meminta maaf kepadanya atas kekhilafannya. Malam itu juga ia menelpon Aisyah meminta maaf karena telah melanggar janjinya. Malam itu juga ia menelpon semua teman-temannya untuk tobat dan jangan terlalu tergoda dengan Arez.

Malam itu Rara tidur nyenyak sekali. Hingga senyum tersungging di wajahnya. Mamanya yang khawatirkan akan Rara ikut tersenyum tatkala meliahat perubahan kamar anaknya dan ikut tersenyum melihat senyum Rara di kala tidurnya. Di kecuplah dahi anaknya dan menutup pintu kamar Rara. Di balik pintu itu terdapat tulisan. AKU ADALAH FANS BERAT DARI :NABI MUHAMMAD SAW dan para Sahabatnya

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: