Ersyaputry's Blog

11/02/2010

Khasiat Kelapa Hijau

Filed under: BerIta Na ErSya — ersyaputry @ 12:21 pm

Air Kelapa Muda sebagai Obat Alternatif Urtikaria
Penyakit alergi dengan berbagai manifestasinya sering dijumpai di masyarakat. Faktor penyebabnya seringkali sulit ditentukan walaupun dengan tes alergi sekalipun karena sering terjadi reaksi silang. Salah satu manifestasi dari penyakit alergi berupa urtikaria. Urtikaria merupakan suatu sindroma (kumpulan gejala) yang menifestasinya berupa gatal-gatal dan bintik-bintik merah pada kulit yang pada umumnya disebabkan oleh alergi. Namun, penyakit ini juag dapat disebabkan oleh krisis emosi atau karena terkena panas atau dingin. Walaupun penyakit ini tidak berbahaya, keluhan gatal yang terjadi sangat mengganggu.

Penyembuhan penyakit alergi seringkali sulit karena sifatnya yang seringkali kambuh, sehingga pengobatan seringkali diperlukan secara berulang. Pengobatan dengan obat-obat moderen, selain biayanya mahal juga dapat menimbulakn efek samping. Obat-obat untuk alergi seperti golongan kortikosteroid dapat menimbulkan efek samping berupa “full moon face” (wajah gemuk bulat seperti bulan) jika digunakan dalam jangka waktu lama. Oleh karena itu, jika ada obat alternatif untuk penyakit alergi dengan menggunakan bahan-bahan alami yang tidak membahayakan pemakai dan lebih murah, tentulah sangat diharapkan.

Tulisan ini merupakan laporan kasus yang ditemui penulis dalam mengamati penderita urtikaria yang diduga karena alergi telur atau daging ayam. Penderita ini sembuh dengan pengobatan moderen dan air kelapa hijau yang diminum.

Tujuan tulisan ini adalah menganalisis dugaan air kelapa muda hijau untuk penyembuhan urtikaria karena alergi.

Urtikaria adalah bintik-bintik merah pada kulit yang sangat gatal dan membentuk lapisan yang membengkak, kemudian meradang sehingga kelihatan tebal. Keadaan ini bersifat sementara dan akan layu dalam beberapa menit atau jam, kalau tidak akan menjadi kronis untuk jangka waktu lama1.

Dalam banyak hal, penyebab bintik-bintik merah adalah alergi terhadap obat-obatan, makanan, sengatan serangga, atau bahan-bahan protein seperti serbuk kembang. Namun, lebih dari 20% disebabkan oleh krisis emosi atau karena terkena dingin, panas, sinar matahari, tekanan, atau air1.

Obat-obat penyebab alergi paling terkenal adalah penisilin dan aspirin. Bahan-bahan protein yang masuk melalui hidung seperti serbuk kembang, jamur, debu dari bulu burung, debu rumah, dan ketombe binatang dapat menimbulkan urtikaria. Demikian juga dengan sengatan serangga seperti lebah tabuhan dan penyengat lainnya1.

Kasus alergi terhadap makanan hanya sedikit yang menimbulkan urtikaria. Namun, jika demikian maka makanan tersebut harus dihapuskan dari daftar menu. Jenis makanan yang dapat menyebabkan alergi adalah telur, ikan, kerang, cokelat, jenis kacang tertentu, tomat, tepung terigu, arbei, buah jeruk, daging babi, daging sapi, dan bumbu masak1.

Mencari dan menghindari bahan atau keadaan yang menyebabkan penyakit ini.
Untuk menghilangkan rasa gatal, dapat dioleskan sedikit tepung soda bakar yang sudah dicampur dengan air atau sepersepuluh larutan methanol dalam alkohol.
Dapat diberikan obat antihistamin yang merupakan obat pilihan.
Jika serangannya hebat, dapat disuntikkan larutan epinefrin atau efedrin dan kortikosteroid.

Identitas penderita: seorang anak laki-laki, umur 4 tahun, berat badan (BB) 18 kg. Riwayat alergi: pada waktu bayi, penderita alergi susu sapi dengan manifestasi mencret, kemudian susu sapi diganti dengan susu kedelai. Dilakukan desensitisasi dengan cara memberinya susu sapi dan menghentikannya saat gejala alergi muncul dan memberinya dengan susu kedelai lagi. Hal ini dilakukan berulang kali sehingga akhirnya penderita kebal terhadap susu sapi. Tidak ada riwayat alergi telur ayam atau daging ayam.

Kebiasaan penderita: penderita punya kebiasaan setiap kali makan selalu ada lauk telur ayam satu biji atau separoh. Hal ini berlangsung setiap hari selama berbulan-bulan. Selama itu, tidak ada gejala apapun yang ditimbulkannya. Dalam satu bulan sebelum sakit, kebiasaan tersebut dihentikan, penderita amat jarang makan telur ayam, paling banyak satu dalam sehari, itupun kalau sedang sulit makan.

Perjalanan penyakit: suatu pagi, kulit seluruh tubuh penderita mendadak gatal. Pada kulit tampak benjolan-benjolan kemerahan persis seperti kena bulu ulat. Penderita diberi obat CTM 1/4 tablet dan dexametason 1/5 tablet. Gejala berkurang, tetapi tidak hilang. Pada waktu tidur malam gejala hilang, tetapi saat bangun tidur gejala muncul kembali. Lama-lama, benjolan-benjolan pada kulit berubah melebar dan lebih merah dengan tepi yang tidak rata. Sebagian bergabung dengan lainnya dan tampak tebal. Saat itu, terpikir dugaan tentang penyebabnya, yaitu karena air mandi kurang bersih, alergi debu, dingin, atau alergi makanan. Antisipasi yang dilakukan adalah air untuk mandi diberi cairan antiseptik, lantai dibersihkan dengan pembersih lantai yang mengandung antiseptik, memakaikan baju panjang, serta tidak mengkonsumsi makanan yang diduga menjadi penyebab alergi. Makanan tersebut antara lain telur ayam, daging ayam, ikan laut, dan susu sapi. Tetapi, gejala tetap ada.

Pada hari kesepuluh, penderita dibawa ke praktik dokter spesialis anak, konsultan alergi imunologi. Diduga, urtikaria pada penderita terjadi akibat alergi telur ayam, karena kasus serupa sering terjadi. Oleh karena itu, penderita disarankan tidak makan telur ayam, daging ayam, dan ikan. Terhadap penderita tidak dilakukan tes alergi karena tidak mungkin. Kulitnya penuh dengan urtikaria dan tubuhnya mengandung histamin yang tentu akan bereaksi terhadap tes yang dilakukan walaupun sebenarnya tesnya negatif. Penderita mendapatkan obat dalam bentuk puyer yang berisi efedrin 0,01 mg, ryzen 1/2 tablet, dan sanmetidin 0,100 mg.

Obat ini diminumkan 2 kali sehari untuk pemakaian 5 hari dan celestamin syrup 3 x 1 sendok. Dalam 1 kali pemberian, gejala langsung berkurang. Setelah beberapa kali pemberian, gejala menghilang setiap kali sehabis minum obat. Namun, jika efek obat telah habis (saat waktunya minum obat), gejala muncul lagi. Keadaan ini berlangsung terus hingga obat tersebut habis.

Pengobatan dilanjutkan dengan pemberian incidal 1/2 tablet dan dexamethason 0,25 mg, tiga kali sehari. Keadaan penderita tetap seperti sebelumnya. Selain obat tersebut, penderita juga minum air kelapa hijau + gula dengan takaran dan frekuensi tergantung kemauan penderita untuk minum.

Pada hari pertama pemberian, gejala tetap. Pada hari kedua pemberian, urtikaria dan rasa gatal hilang sama sekali. Incidal diberikan 1 kali lagi, kemudian dihentikan. Sedangkan dexamethason tetap diberikan secara tappering (frekuensi pemberian dikurangi secara perlahan-lahan). Pemberian air kelapa hijau diteruskan sampai 7 hari. Sampai tulisan ini dibuat, urtikaria tidak pernah muncul lagi walaupun kadang-kadang penderita makan telur ayam atau daging ayam.

1 Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: