Ersyaputry's Blog

05/02/2010

MenTal Age dan ChRonologiCal Age

Filed under: Tes IQ Dan Panduan Untuk IQ yang SmaRT — ersyaputry @ 10:59 am

Ketika pertama kali Alfred Binet, seorang psikolog Perancis, membuat kerangka tes IQ untuk anak – anaka sekolah yang berusia muda, dia telah mengamati bahwa pada saat anak – anak tersebut tumbuh besar, kekuatan mereka dalam menyelesaikan persoalan cenderung bertambah.

Oleh karena itu, dia memperkenalkan Mental age ( Usia Tingkat Kecerdasan ). seorang anak dengan mental age 10, misalnya akan dapat menyelesaikan persoalan seperti pada anak – anak yang rata – rata berusia 10 tahun di dalam suatu tes biner, walaupun umur anak itu choronological age ( umur kronologis ) sebenarnya di bawah 10 tahun.

Nilai IQ dihitung sebagai perbandingan antara mental age dan choronological age ( dikalikan 100 untuk menghilangkan titik desimalnya). Sebagai contoh, anak berusia 10 tahun dengan mental age 13 berarti dya memiliki IQ 130,sedangkan anak berusia 10 tahun dengan mental age – Nya7, memiliki IQ 70.

Metode penghitung IQ seperti ini akan menghasilkan suatu gambaran yang sangat tinggi ata sangat rendah, khusunya bila penyebutnya ( usia dan tahun ) sangat kecil. Bayi berusia 1 tahun yang melakukan tindakan seperti yang biasa dilakukan oleh bayi berusia 2 Tahun akan mempunyai IQ sebesar 200.

Gambaran seperti ini mungkin akan selalu diingat oleh orang tuanya dan anak itu sendiri setelah ia dewasa, dan hal ini mempunyai arti yang sangat besar bagi dirinya dengan demikian, agar gambaran ini nyata perlu digunakan metode perbandingan dalam perhitungan IQ saat dia benar – benar dewasa, ketika tingkat usia kecerdasannya ( mental age ) berada dalam keadaan yang stabil dan pada akhirnya menurun, sedangkan umur kronologisnya bertambah.

Tes IQ yang modern menggunakan metode statistik untuk menhitung IQ seseorang. Metode ini didasarkan pada besarnya deviasi seseorang terhadap nilai rata – ratanya. Sebagai contoh nilai IQ 140 hanya akan dimiliki oleh satu diantara 200 orang. Ini dapat terlihat pada gambar di Bab 2, yaiut angka di dalam segmen dibawah kurva menunjukan persentase populasi yang termasuk dalam ” range IQ ”

Tes IQ biasanya dilakukan untuk memperkirakan abilite secara menyeluruh, yaitu dengan mengambil suatu sampel pada keadaan yang berbeda – beda dalam hal kecakapan, pengamatan ( cognitif skill), antara lain : pengamatan kata – kata, bilangan, ruang, penglihatan, dll.

Hubungan antara intelegensia dan pekerjaan/ kedudukan yang diperoleh dapat dibentuk karena besar – kecilnya kesempatan yang di peroleh, yaitu intelegensia orang tua dapat mempengaruhi anak – anaknya. dengan kata lain, banyak orang percaya bahwa intelegensia merupakan refleksi dari kondisi sosial.fariabel ini akan saling mempengaruhi,tetapi seperti yang akan kita lihat nanti, intelegensia kita “menyebabkan” kondisi sosial kita akan lebih kuat mempengaruh dari pada kelas sosial orang tua kita “menyebabkan” itelegensia kita.

Iklan

1 Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: